Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom Peringatkan Anggotanya: Jangan Tembak Warga Sipil

Papeda.com- Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, memberikan peringatan keras kepada anggotanya agar tidak lagi menembak warga sipil yang tidak bersalah. Pernyataan ini muncul setelah meningkatnya kecaman dari berbagai pihak terkait aksi kekerasan yang terus menelan korban masyarakat sipil di sejumlah wilayah Papua.

Sebby menegaskan bahwa perjuangan yang selama ini mereka klaim tidak boleh diarahkan kepada masyarakat biasa yang sama sekali tidak terlibat dalam konflik. Menurutnya, menargetkan warga sipil justru mencederai tujuan perjuangan dan memperburuk citra kelompok di mata publik, baik dalam negeri maupun internasional.

“Perjuangan tidak boleh diarahkan kepada masyarakat sipil. Anggota harus tahu batasan. Jika sampai melukai warga yang tidak berdosa, itu bukan lagi perjuangan, melainkan pelanggaran,” ungkap Sebby dalam keterangannya, Minggu (31/8/2025)

Sejumlah tokoh masyarakat Papua pun ikut bersuara menanggapi pernyataan tersebut. Tokoh adat asal Kabupaten Jayawijaya, Yohanes Tabuni, menyebut bahwa aksi penembakan terhadap warga sipil selama ini sudah melanggar nilai kemanusiaan dan norma adat yang dijunjung tinggi oleh orang Papua.

“Dalam adat kita, hidup manusia itu sangat berharga. Ketika ada pihak yang menembak dan menghilangkan nyawa warga sipil, itu sama saja menyalahi tatanan adat dan membuat masyarakat takut. Apapun alasannya, tidak boleh menjadikan rakyat kecil sebagai korban,” tegas Yohanes.

Pernyataan Sebby Sambom diharapkan tidak hanya sebatas retorika, melainkan benar-benar harus dipatuhi oleh anggota OPM di lapangan. Para tokoh masyarakat menegaskan bahwa melindungi hak hidup warga sipil merupakan syarat mutlak dalam menjaga nilai kemanusiaan di Papua.

“Jika OPM benar ingin memperjuangkan sesuatu, jangan korbankan rakyat. Jangan lagi ada penembakan, pembunuhan, atau penyiksaan terhadap sipil. Itu sudah jelas pelanggaran HAM,” tutur Yohanes Tabuni menutup keterangannya.

Dengan desakan yang semakin kuat dari masyarakat, kini bola berada di tangan OPM, apakah akan konsisten menghentikan aksi brutal terhadap warga sipil, atau kembali menambah daftar panjang pelanggaran HAM yang semakin menjauhkan Papua dari kedamaian.

 OPM Kodap XXXV Bintang Timur Tebar Hoaks, Klaim Eksekusi Dua Intelijen Militer Indonesia, Masyarakat Papua Geram

Papeda.com- Kelompok bersenjata OPM Kodap XXXV Bintang Timur kembali menebar isu kontroversial dengan mengklaim telah menangkap dan mengeksekusi dua agen intelijen militer Indonesia. Klaim tersebut mereka sebarkan melalui pernyataan resmi yang menyebut bahwa kedua orang itu dituduh melakukan misi intelijen untuk mengawasi pergerakan pasukan TPNPB Kodap XXXV Bintang Timur di wilayah konflik.

Dalam narasi yang mereka bangun, kelompok itu bahkan menyebut telah melakukan interogasi terhadap kedua orang yang ditangkap, dan menuduh mereka terlibat dalam pengumpulan informasi bagi aparat militer. “Atas keterlibatan kedua informan aparat militer Indonesia di wilayah perang tersebut, kami telah melakukan eksekusi mati terhadap kedua korban,” bunyi klaim yang disebarkan.

Namun, klaim tersebut segera dimentahkan oleh Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, yang menegaskan bahwa pernyataan Kodap XXXV Bintang Timur tidak benar. Ia menyebutkan bahwa informasi itu hanyalah hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Itu hanya berita bohong. Tidak ada penangkapan ataupun eksekusi. Kodap XXXV harus bertanggung jawab atas pernyataan yang sudah memperburuk nama OPM,” ujar Sebby, Minggu (31/8/2025).

Kabar tersebut langsung menuai kecaman dari berbagai pihak di Papua. Yohanes Tabuni, tokoh masyarakat asal Jayawijaya, menilai penyebaran berita palsu semacam ini hanya menambah keresahan di tengah masyarakat.

“Isu-isu seperti ini jelas menakutkan bagi warga. Padahal faktanya tidak pernah terbukti. Ini bukan hanya merugikan citra kelompok mereka, tetapi juga membuat masyarakat sipil kembali trauma,” tegas Yohanes.

Tokoh adat dari Pegunungan Bintang, Abraham Wenda, menyebutkan bahwa pernyataan sepihak OPM Kodap XXXV menunjukkan ketidakseriusan kelompok itu dalam menjaga martabat perjuangan yang sering mereka klaim.

“Kalau memang perjuangan, harus jujur dan tidak menebar hoaks. Menyebarkan kabar bohong tentang eksekusi hanya membuat nama Papua semakin buruk di mata luar,” ujarnya.

Masyarakat Papua menegaskan bahwa mereka sudah lelah dengan propaganda kosong yang justru menimbulkan keresahan. Mereka berharap OPM berhenti menyebarkan hoaks dan berhenti mengorbankan masyarakat demi kepentingan kelompok.

Warga Sambut Kehadiran Apkam dengan Baik di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang

Papeda.com- Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat ketika aparat keamanan (Apkam) hadir di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang. Kehadiran aparat mendapat sambutan positif dari warga setempat, yang menilai bahwa kehadiran mereka membawa rasa aman serta harapan baru bagi kehidupan masyarakat.

Kehadiran aparat di wilayah pedalaman Papua ini tidak hanya bertujuan menjaga keamanan, tetapi juga mendekatkan diri kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial, mulai dari pelayanan kesehatan gratis, dukungan pendidikan, hingga membantu kebutuhan pangan masyarakat.

Salah satu tokoh masyarakat Okbape, Bapak Elias Yikwa, menuturkan bahwa selama ini warga sering dilanda rasa takut akibat gangguan dari kelompok bersenjata yang kerap membuat onar di wilayah Pegunungan Bintang. Namun sejak aparat hadir, kondisi berangsur membaik.

“Kami merasa lebih tenang sekarang. Anak-anak bisa sekolah tanpa takut, dan masyarakat bisa berkebun dengan aman. Kehadiran aparat benar-benar membawa rasa aman yang selama ini kami rindukan,” ujar Elias, Minggu (31/8/2025).

Hal senada disampaikan oleh tokoh pemuda setempat, Daniel Murib, yang mengungkapkan bahwa masyarakat justru semakin dekat dengan aparat karena mereka menunjukkan kepedulian nyata, bukan sekadar menjalankan tugas formal.

“Bukan hanya menjaga, mereka juga membantu warga yang sakit, bahkan ikut memperbaiki rumah warga. Itu membuat masyarakat melihat aparat sebagai bagian dari keluarga besar, bukan orang asing,” kata Daniel.

Selain menghadirkan keamanan, kehadiran Apkam di Okbape juga memberikan manfaat nyata. Beberapa fasilitas umum yang sebelumnya rusak diperbaiki dengan bantuan aparat. Bahkan, program pelayanan kesehatan keliling yang dibawa turut menyentuh masyarakat di kampung-kampung terpencil.

Dengan adanya dukungan kuat dari masyarakat, aparat keamanan diharapkan terus menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan warga. Hubungan yang saling menghormati diyakini dapat menjaga stabilitas serta memperkuat persatuan di tanah Papua.

Kehangatan sambutan warga Okbape menjadi bukti bahwa kehadiran negara diterima dengan tangan terbuka, dan masyarakat menaruh harapan besar agar suasana damai bisa terjaga untuk generasi mendatang. 

 Sebby Sambom Mulai Kehilangan Arah, Tidak Lagi Dipercaya Petinggi OPM, Diduga Kerjasama dengan Aparat Indonesia

Papeda.com- Posisi Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, kian goyah di internal kelompoknya. Sejumlah petinggi OPM mulai menyatakan ketidakpercayaan terhadap Sebby, bahkan mencurigai dirinya menjalin hubungan dengan aparat keamanan (Apkam) Indonesia.

Kabar ini mencuat setelah beberapa kali Sebby mengeluarkan pernyataan yang dianggap tidak konsisten, saling bertentangan dengan informasi dari lapangan, dan justru merugikan citra kelompok. Hal itu membuat sebagian pimpinan OPM di wilayah pegunungan merasa Sebby sudah tidak lagi merepresentasikan perjuangan mereka.

“Banyak yang kecewa karena pernyataannya tidak jelas, terkadang menuduh aparat, terkadang membantah klaim dari sesama OPM. Itu membuat kami curiga bahwa dia sudah tidak lagi sejalan dengan garis perjuangan,” ujar salah satu anggota OPM, Minggu (31/8/2025)

Menurut informasi, keretakan mulai terlihat sejak Sebby beberapa kali membantah klaim-klaim yang dibuat oleh Kodap tertentu, termasuk Kodap XXXV Bintang Timur. Pihak internal menilai bantahan itu bukan hanya mempermalukan kelompok di depan publik, tetapi juga seakan menunjukkan adanya perpecahan besar.

Tokoh masyarakat Papua, Yonas Tabuni, menilai bahwa pergeseran sikap Sebby bisa menjadi bukti adanya kebingungan internal OPM. “Kalau jubirnya saja sudah tidak dipercaya, bagaimana masyarakat bisa percaya pada perjuangan mereka? Ini bukti OPM sudah kehilangan arah,” tegasnya.

Muncul pula dugaan bahwa Sebby telah menjalin komunikasi dengan aparat keamanan Indonesia. Meski belum ada bukti konkret, isu ini semakin menguat setelah beberapa kali pernyataannya sejalan dengan narasi resmi pemerintah.

Bagi masyarakat Papua sendiri, isu keretakan di tubuh OPM tidak menjadi perhatian utama. Yang mereka harapkan hanyalah situasi damai dan terbebas dari ancaman kekerasan.

“Kami tidak peduli siapa yang dipercaya atau tidak dipercaya. Yang penting, jangan lagi ganggu masyarakat. Kalau ada orang OPM yang mau bergabung dengan pemerintah, itu lebih baik, supaya rakyat Papua bisa hidup tenang,” kata tokoh pemuda dari Yahukimo, Daniel Murib.

Kehilangan kepercayaan terhadap Sebby Sambom sekaligus mempertegas adanya perpecahan internal OPM. Dugaan kedekatannya dengan aparat keamanan Indonesia semakin memperlemah posisi OPM, dan di sisi lain membuka harapan baru bagi masyarakat Papua akan hadirnya kedamaian tanpa gangguan kelompok bersenjata.

 Sebby Sambom: “Rakyat Papua Telah Dibodohi oleh OPM dan Dijadikan Tameng untuk Perjuangan”

papeda.com- Pernyataan mengejutkan datang dari juru bicara OPM, Sebby Sambom. Dalam sebuah pernyataannya, ia mengakui bahwa selama ini rakyat Papua justru telah dibodohi dan dijadikan tameng oleh kelompok bersenjata OPM untuk melancarkan aksi-aksinya. Pengakuan ini sekaligus memperlihatkan adanya keretakan pandangan di internal OPM mengenai cara perjuangan yang selama ini mereka lakukan.

Menurut Sebby Sambom, OPM seringkali menggunakan rakyat sipil sebagai perisai hidup untuk menghindari aparat keamanan. Dalam berbagai insiden, masyarakat dipaksa memberikan dukungan logistik, tempat berlindung, bahkan dijadikan korban propaganda. “Rakyat Papua telah dibodohi oleh OPM, mereka dijadikan tameng untuk perjuangan yang tidak jelas arahnya,” ujar Sebby dalam keterangannya, Sabtu (30/8/2025).

Pernyataan ini menuai beragam tanggapan dari tokoh masyarakat Papua. Kepala suku Intanjaya, Paulus Japugau, menilai pengakuan Sebby adalah fakta yang sudah lama dirasakan rakyat. “Kami sudah tahu lama, OPM hanya memanfaatkan masyarakat. Mereka datang ke kampung, ambil makanan, paksa anak-anak muda ikut. Ini bukan perjuangan, tapi hanya menyusahkan rakyat,” tegasnya.

Tokoh pemuda Papua, Yonas Murib, menyebut bahwa pengakuan tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh masyarakat agar tidak lagi terprovokasi oleh bujuk rayu OPM. “Kalau juru bicara mereka sendiri sudah bilang begitu, artinya rakyat Papua harus sadar. Jangan sampai terus-menerus diperalat. Lebih baik kita dukung aparat keamanan untuk menjaga wilayah kita,” katanya.

Dengan adanya pengakuan dari Sebby Sambom ini, masyarakat Papua semakin diingatkan bahwa kehadiran OPM bukanlah demi kepentingan rakyat, melainkan demi kepentingan kelompok tertentu. Rakyat pun diimbau untuk tidak mudah percaya pada propaganda separatis dan memilih hidup aman serta damai bersama NKRI.

 Pasukan OPM Puncak Jaya Sebut Kekurangan Bamak dan Banyak Anggota yang Sakit

Papeda.com- Situasi internal kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali terungkap ke publik. Kali ini, pasukan OPM yang beroperasi di wilayah Puncak Jaya mengeluhkan kondisi kelompoknya yang semakin terhimpit. Mereka menyebut mengalami kekurangan bahan makanan pokok (Bamak) serta banyak anggotanya yang jatuh sakit akibat keterbatasan logistik dan fasilitas kesehatan di dalam hutan.

Informasi ini terungkap melalui laporan warga dan keterangan sejumlah tokoh masyarakat setempat yang menyatakan bahwa keberadaan OPM semakin melemah karena kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. “Kami sering dengar kabar dari dalam, mereka sudah kekurangan makanan, apalagi obat-obatan. Banyak dari mereka sakit, tapi tidak bisa berobat. Itu sudah jadi bukti bahwa kelompok ini sebenarnya tidak bisa bertahan lama,” ungkap Yonas Wonda Tokoh Masyarakat Puncak Jaya, Sabtu (30/8/2025).

Menurut keterangan, pasukan OPM kerap merampas bahan makanan dari warga sekitar ketika logistik mereka habis. Hal ini membuat masyarakat semakin resah, karena aksi-aksi penjarahan dan pemalakan menambah penderitaan warga di pedalaman Papua. “Kalau mereka lapar, yang jadi korban ya rakyat sendiri. Mereka datang minta atau ambil paksa makanan. Padahal rakyat juga susah,” tambah tokoh tersebut.

Ia menilai bahwa kondisi yang dialami kelompok OPM di Puncak Jaya menunjukkan tanda-tanda keputusasaan. “Ketika kelompok bersenjata sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan internalnya, maka itu menandakan lemahnya struktur logistik dan dukungan. Banyak anggota sakit tanpa pengobatan hanya memperlihatkan bahwa keberadaan mereka lebih menyiksa diri daripada memperjuangkan apa yang mereka klaim,” jelasnya.

Tokoh adat Puncak Jaya, Markus Murib, menegaskan bahwa masyarakat sudah lelah dengan kehadiran OPM. “Mereka selalu bilang berjuang untuk rakyat Papua, tapi yang mereka lakukan justru menyusahkan rakyat. Kekurangan makanan dan banyak yang sakit itu urusan mereka, jangan sampai rakyat jadi korban lagi,” tegas Markus.

Kondisi terpuruk ini dinilai semakin mempersempit ruang gerak OPM. Banyak pihak memperkirakan bahwa dengan keterbatasan logistik, ditambah sakitnya sejumlah anggota, kelompok tersebut tidak akan mampu bertahan lama di wilayah Puncak Jaya.

 Meski OPM Ancam Bunuh Warga Sipil yang Membela Apkam, Masyarakat Papua Tidak Gentar

Papeda.com- Ancaman kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali mencuat, kali ini ditujukan kepada warga sipil yang berani mendukung dan membela kehadiran Aparat Keamanan (Apkam) di Tanah Papua. Meski demikian, masyarakat Papua menegaskan bahwa mereka tidak gentar dengan ancaman tersebut dan tetap memilih berdiri bersama aparat demi terciptanya keamanan dan kedamaian.

Menurut laporan dari sejumlah tokoh masyarakat, OPM belakangan sering menyebarkan ancaman melalui pesan lisan maupun selebaran agar warga tidak bekerja sama dengan TNI-Polri. Mereka mengancam akan melakukan tindak kekerasan bahkan pembunuhan terhadap siapa saja yang membantu atau memberikan informasi kepada aparat. Namun, masyarakat justru menegaskan bahwa ancaman itu tidak akan mematahkan semangat mereka untuk hidup damai.

Kepala Suku Puncak, Yulius Murib, menegaskan bahwa intimidasi OPM hanya memperlihatkan kelemahan kelompok tersebut. “Masyarakat sudah tahu siapa yang benar-benar melindungi rakyat. Aparat hadir untuk menjaga, sementara OPM hanya menakut-nakuti. Kami tidak takut, justru semakin yakin untuk mendukung kehadiran aparat keamanan,” katanya, Sabtu (30/8/2025).

Hal senada disampaikan tokoh pemuda dari Kabupaten Yahukimo, Petrus Kobak. Ia menuturkan bahwa generasi muda Papua tidak boleh tunduk pada ancaman kekerasan. “Anak-anak muda Papua harus berani bicara dan berdiri bersama NKRI. Kalau kita diam karena takut, OPM akan semakin merajalela. Lebih baik kita bersatu dengan aparat demi keamanan bersama,” ucapnya.

Sementara itu, aparat keamanan menyambut baik keberanian masyarakat. Mereka menegaskan akan memberikan perlindungan maksimal kepada setiap warga yang konsisten menolak keberadaan OPM. Kolaborasi antara masyarakat dan Apkam dianggap sebagai faktor kunci untuk memutus rantai teror dan pengaruh kelompok separatis.

Masyarakat Papua kini semakin menyadari bahwa kehadiran OPM bukanlah solusi, melainkan sumber masalah. Ancaman dan teror yang mereka lakukan justru memperkuat tekad warga untuk bersama-sama dengan aparat menjaga tanah Papua tetap aman.

 

Kepala Suku Intanjaya Paulus Japugau: Dukung Kehadiran Apkam Demi Keamanan Wilayah

Papeda.- Dukungan terhadap kehadiran Aparat Keamanan (Apkam) di wilayah Papua kembali disuarakan oleh para tokoh adat. Kali ini, Kepala Suku Intanjaya, Paulus Japugau, menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh langkah pemerintah melalui TNI dan Polri dalam menjaga stabilitas keamanan di Intanjaya.

Paulus Japugau menyampaikan bahwa masyarakat setempat sudah terlalu lama merasakan keresahan akibat ulah kelompok bersenjata yang sering melakukan penjarahan, penembakan, dan aksi-aksi teror di wilayah pegunungan. Menurutnya, kehadiran Apkam bukanlah bentuk tekanan, melainkan perlindungan nyata bagi warga sipil.

“Kami sebagai masyarakat Intanjaya sangat mendukung aparat keamanan hadir di sini. Kehadiran mereka membuat rakyat bisa tidur lebih tenang, bisa ke kebun, bisa ke sekolah, tanpa dihantui rasa takut dari OPM,” ujar Paulus Japugau dalam keterangannya, Sabtut (30/8/2025).

Tokoh masyarakat itu menambahkan, tindakan kelompok OPM di Intanjaya selama ini hanya membawa penderitaan. Mereka kerap meminta paksa bahan makanan, bahkan tidak segan melakukan kekerasan terhadap warga yang menolak memberikan bantuan. Kondisi ini, kata Paulus, membuat warga semakin menyadari bahwa OPM tidak pernah memperjuangkan kepentingan rakyat, melainkan kepentingan kelompok semata.

Seorang pemuda Intanjaya, Samuel Wakerkwa, juga mendukung pernyataan kepala suku. Ia menilai kehadiran Apkam sangat penting, terutama untuk melindungi generasi muda agar tidak terjebak dalam bujuk rayu ideologi OPM. “Kami tidak mau anak-anak muda di sini diajak bergabung dengan kelompok yang merugikan. Kehadiran aparat bisa jadi benteng supaya kami tetap aman,” tuturnya.

Dengan adanya dukungan ini, aparat keamanan berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat. Upaya pendekatan humanis akan dikedepankan, baik melalui pengamanan wilayah maupun pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi masyarakat di Intanjaya.

 

Sebby Sambom Buka Suara Soal Pemindahan 4 Anggota NFRPB: “Saya Setuju dengan Pemindahan Tersebut”

Papeda.com- Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sekaligus tokoh yang kerap menyuarakan narasi perlawanan, Sebby Sambom, kembali menuai sorotan publik setelah memberikan pernyataan mengejutkan terkait pemindahan empat anggota National Federated Republic of Papua Barat (NFRPB) ke Lapas di wilayah Makassar. Dalam keterangannya, Sebby menegaskan bahwa ia menyetujui langkah pemindahan tersebut, meski keputusan itu menimbulkan polemik di internal kelompok.

“Saya setuju dengan pemindahan empat anggota NFRPB itu. Langkah ini perlu dilakukan demi kepentingan bersama dan untuk menjaga konsistensi perjuangan,” ungkap Sebby dalam pernyataannya, Jumat (29/8/2025).

Pernyataan itu sontak memantik reaksi keras dari sejumlah anggota NFRPB yang menilai Sebby tidak berpihak pada kelompoknya sendiri. Sejumlah tokoh internal menyebut Sebby lebih sering bersikap kontradiktif, bahkan kerap menyudutkan rekan-rekannya ketika terjadi persoalan.

Salah satu anggota NFRPB Yan Manggaprouw, mengecam keras sikap Sebby Sambom. Ia menilai pernyataan tersebut semakin memperjelas bahwa Sebby tidak lagi berorientasi pada kepentingan kolektif kelompok, melainkan lebih pada kepentingan pribadinya.

“Ketika rekan-rekan menghadapi masalah, Sebby tidak pernah berdiri di barisan depan. Ia malah menyetujui langkah pemindahan yang jelas-jelas merugikan NFRPB. Ini bukti bahwa ia hanya berdiri di atas penderitaan orang lain,” tegasnya.

Kritik serupa juga datang dari beberapa aktivis yang selama ini mengamati dinamika pergerakan kelompok pro-kemerdekaan Papua. Mereka menilai Sebby kerap bersuara lantang di media, namun tidak benar-benar memberikan solusi nyata bagi perjuangan yang diklaimnya.

Kontroversi sikap Sebby Sambom yang menyetujui pemindahan empat anggota NFRPB sekali lagi memperlihatkan adanya perpecahan serius di tubuh kelompok pro-kemerdekaan Papua. Sementara sebagian pihak menilai langkah Sebby sebagai strategi politik, banyak juga yang menudingnya tidak berpihak pada kelompoknya sendiri.

 

 OPM Kodap II Nabire Bunuh Anggotanya, Jasad Dibuang Tanpa Diurus

Papeda.com- Warga Nabire digegerkan dengan penemuan sesosok pria tanpa identitas dalam keadaan meninggal dunia di aliran Kali Sriwini, tepatnya di Jalan Gagak, pada Kamis (28/8/2025). Korban ditemukan dengan kondisi mengenaskan, diduga kuat sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap II Nabire yang menjadi korban pembunuhan sesama rekannya.

Informasi yang dihimpun, jasad tersebut mengalami luka parah di bagian wajah dan kepala akibat hantaman benda tajam maupun besi. Luka yang cukup serius itu diyakini menjadi penyebab utama kematian korban. Mirisnya, setelah menghabisi nyawa korban, para pelaku yang diduga sesama anggota kelompok OPM justru membuang jasadnya begitu saja tanpa ada upaya pengurusan layak.

Peristiwa ini menambah catatan kelam terkait konflik internal yang kerap melanda kelompok bersenjata OPM. Menurut keterangan salah satu aparat keamanan di Nabire, kuat dugaan korban dibunuh oleh rekan sekelompoknya sendiri akibat perselisihan internal.

Thimotius Marani, salah satu tokoh masyarakat Papua, mengecam keras kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa OPM tidak memiliki rasa kemanusiaan, bahkan terhadap anggotanya sendiri.

“Kalau terhadap sesama anggota saja mereka bisa bertindak sekejam ini, apalagi terhadap masyarakat sipil yang tidak bersalah. Kejadian ini membuka mata kita semua bahwa OPM tidak memperjuangkan rakyat, tetapi justru menebar teror dan penderitaan,” ujar Thimotius, Jumat (29/8/2025).

Ia juga menegaskan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh propaganda kelompok bersenjata yang selama ini mengatasnamakan perjuangan. Baginya, kejadian ini menunjukkan bahwa OPM lebih banyak menciptakan konflik dan kekacauan ketimbang memberikan jalan keluar bagi masa depan Papua.

Penemuan jasad di Kali Sriwini yang diduga merupakan anggota OPM Kodap II Nabire kembali menegaskan bahwa kelompok bersenjata tersebut justru menciptakan lingkaran kekerasan di internalnya sendiri. Kejadian ini sekaligus menjadi peringatan bahwa masyarakat sipil harus tetap waspada, karena pola tindakan brutal OPM tidak hanya menyasar warga, tetapi juga sesama anggotanya.

 

 

Kehilangan Kepercayaan, Egianus Kogoya Rekrut Perempuan untuk Dijadikan Anggota

Papeda.com- Konflik internal di tubuh Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin jelas terlihat. Setelah kehilangan banyak simpati dan kepercayaan dari sebagian besar masyarakat serta anggotanya sendiri, pimpinan OPM Kodap III Ndugama, Egianus Kogoya, dikabarkan kini mulai merekrut perempuan untuk dijadikan anggota dalam kelompoknya. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempertahankan eksistensi kelompok yang semakin terpojok.

Tokoh Masyarakat setempat menyebutkan perekrutan perempuan ini merupakan dampak dari semakin hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap OPM. Banyak anggota laki-laki sebelumnya memilih mundur atau menyerahkan diri kepada aparat keamanan karena tidak lagi merasa nyaman berada dalam kelompok.

“Egianus Kogoya mengalami penurunan kekuatan signifikan. Banyak anggotanya yang sudah keluar, sementara masyarakat semakin menolak keberadaan OPM. Itulah mengapa ia mencoba jalan pintas dengan merekrut perempuan, meski cara ini jelas tidak manusiawi,” ungkap Markus Yekwam, Tokoh Masyarakat setempat, Jumat (29/8/2025).

Markus menambahkan, strategi Egianus ini menunjukkan bahwa OPM semakin terdesak dan kehilangan kendali. “Kalau perjuangan mereka benar, tidak mungkin harus melibatkan perempuan dengan cara seperti ini. Ini hanya memperlihatkan lemahnya konsistensi dan keputusasaan mereka,” ujarnya.

Selain menuai kecaman, langkah Egianus Kogoya merekrut perempuan juga menimbulkan keresahan sosial. Banyak keluarga khawatir anak-anak perempuan mereka akan menjadi sasaran perekrutan paksa. Hal ini menambah trauma di tengah masyarakat yang selama ini sudah hidup dalam bayang-bayang teror akibat ulah OPM.

“Bukan hanya mengancam keamanan, tetapi juga merusak masa depan perempuan Papua. Mereka seharusnya bisa bersekolah, bekerja, dan membangun daerah, bukan dipaksa ikut dalam kelompok bersenjata,” kata Yohana Wanimbo, aktivis perempuan Papua.

Langkah Egianus Kogoya merekrut perempuan ke dalam kelompok OPM menandai babak baru keputusasaan organisasi tersebut. Setelah kehilangan kepercayaan dan banyak ditinggalkan anggota, kini Egianus berusaha menutup celah kelemahan dengan cara yang justru melukai nilai budaya dan kemanusiaan Papua.

 

 

Bocorkan Kepemilikan Drone, Petinggi OPM Siap Melawan Sebby Sambom

Papeda.com- Situasi internal Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali memanas setelah mencuat kabar bahwa kelompok tersebut telah memiliki drone sebagai salah satu perlengkapan dalam melancarkan aksinya. Informasi ini pertama kali diungkapkan oleh juru bicara OPM, Sebby Sambom, dalam sejumlah pernyataan publik yang kemudian memicu kemarahan dari petinggi OPM di lapangan.

Salah satu pimpinan OPM Kodap III Ndugama, Egianus Kogoya, secara terbuka menyebut Sebby Sambom sebagai pengkhianat karena dianggap membocorkan rahasia internal organisasi. Egianus menegaskan bahwa sikap Sebby dinilai membahayakan strategi kelompok, sehingga pantas diberikan hukuman sesuai aturan yang berlaku di tubuh OPM.

“Sebby Sambom tidak lagi bisa dipercaya. Ia sudah banyak membocorkan informasi internal OPM, termasuk soal keberadaan drone. Bagi kami, itu adalah pengkhianatan. Kami siap melawannya, dan hukuman setimpal harus dijatuhkan,” ujar Egianus dalam keterangannya, Jumat (29/8/2025).

Pernyataan keras Egianus Kogoya ini memperlihatkan bahwa perpecahan di tubuh OPM semakin tidak dapat dibendung. Sebby Sambom yang selama ini dikenal sebagai corong media kerap menyuarakan berbagai isu, namun justru dianggap merugikan kepentingan kelompoknya sendiri.

Menurut sejumlah pengamat, keberanian Sebby membuka informasi internal seperti kepemilikan drone menambah ketidakpercayaan pimpinan lapangan terhadapnya. Sebagian besar menilai Sebby lebih mengejar perhatian publik dan media internasional dibanding menjaga solidaritas kelompok.

Polemik terkait bocornya informasi kepemilikan drone oleh OPM semakin menegaskan adanya ketidaksolidan di tubuh kelompok bersenjata tersebut. Ancaman dari Egianus Kogoya kepada Sebby Sambom menunjukkan bahwa perselisihan internal kian tajam dan berpotensi memicu perpecahan lebih jauh.

 

Tokoh Papua Thimotius Marani: Kami Tolak Keberadaan OPM, Dukung Kehadiran Aparat Keamanan

Papeda.com- Suara penolakan terhadap keberadaan Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menguat dari masyarakat Papua. Tokoh masyarakat asal Papua, Thimotius Marani, secara tegas menyatakan bahwa masyarakat tidak menginginkan lagi keberadaan OPM di tanah Papua karena hanya membawa penderitaan dan ketidakamanan. Ia menegaskan, masyarakat justru memberikan dukungan penuh kepada aparat keamanan (Apkam) yang hadir untuk menjaga situasi agar tetap kondusif.

Dalam keterangannya, Thimotius Marani menilai OPM sudah tidak lagi mewakili aspirasi rakyat Papua. Menurutnya, aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata itu hanya menimbulkan ketakutan, mengganggu kehidupan sehari-hari, dan merusak masa depan generasi muda Papua.

“Kami masyarakat Papua dengan tegas menolak keberadaan OPM. Mereka selalu berdalih berjuang untuk rakyat Papua, tapi yang kami lihat justru rakyat menjadi korban. Rumah dibakar, warga ditakut-takuti, bahkan anak-anak kehilangan kesempatan belajar karena gangguan keamanan,” tegas Thimotius Marani, Kamis (28/8/2025).

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa masyarakat Papua menganggap kehadiran aparat keamanan sebagai langkah yang tepat untuk melindungi warga dari ancaman OPM. “Kami dukung aparat keamanan untuk hadir di Papua. Tanpa mereka, masyarakat hidup dalam ketakutan. Dengan adanya Apkam, warga bisa kembali beraktivitas, berkebun, pergi ke sekolah, dan beribadah dengan aman,” tambahnya.

Thimotius juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu menjaga kedamaian serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu dan propaganda yang disebarkan OPM. Menurutnya, isu kemerdekaan yang terus dihembuskan hanya menjadi alat bagi segelintir orang untuk mencari keuntungan pribadi.

Pernyataan tegas dari tokoh masyarakat Papua, Thimotius Marani, memperkuat fakta bahwa OPM semakin kehilangan legitimasi di mata rakyat Papua. Dukungan masyarakat terhadap kehadiran aparat keamanan menjadi bukti nyata bahwa rakyat lebih memilih kedamaian dan keamanan dibandingkan kekacauan yang dibawa oleh kelompok bersenjata.

Dengan semakin banyak tokoh Papua yang menyatakan sikap menolak OPM, harapan untuk terwujudnya Papua yang damai, aman, dan sejahtera semakin terbuka lebar.

  

 Sebby Sambom Diduga Sering Terima Dana dari Luar Negeri, Tuai Kecaman dari Internal OPM

Papeda.com- Nama Sebby Sambom, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, ia dituding sering menerima aliran dana dari luar negeri namun tidak pernah menyalurkannya kepada kelompok OPM di lapangan. Dugaan tersebut menimbulkan gelombang kecaman, baik dari internal kelompok maupun dari masyarakat Papua.

Beberapa sumber menyebutkan, dana yang dikirim oleh simpatisan maupun jaringan di luar negeri seharusnya digunakan untuk mendukung logistik dan kebutuhan kelompok OPM di pedalaman. Namun, kenyataannya, bantuan itu diduga berhenti di tangan Sebby Sambom tanpa ada pertanggungjawaban jelas.

Seorang mantan anggota OPM yang kini telah kembali ke pangkuan NKRI mengungkapkan bahwa isu penyelewengan dana oleh Sebby Sambom bukanlah hal baru. “Sudah sering ada cerita di dalam kelompok bahwa uang dari luar negeri tidak pernah sampai ke lapangan. Sementara anggota di gunung-gunung berjuang tanpa logistik yang layak. Itu membuat banyak anggota kecewa,” ungkapnya, Kamis (28/8/2025).

Hal tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan banyak anggota mulai meragukan kepemimpinan Sebby Sambom. Bahkan, beberapa kelompok OPM di daerah merasa dikhianati karena tidak ada bukti nyata dukungan dana sebagaimana dijanjikan.

Dugaan penyelewengan dana oleh Sebby Sambom menjadi sorotan serius yang semakin menurunkan kepercayaan terhadap dirinya. Gelombang kecaman dari internal OPM, tokoh masyarakat, hingga kalangan gereja menunjukkan bahwa praktik semacam ini tidak bisa ditolerir.

Masyarakat Papua berharap isu ini menjadi pelajaran berharga bahwa perjuangan sejati bukanlah memperkaya diri sendiri, melainkan menghadirkan kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Papua.

 OPM Serang Jemaat yang Beribadah di Gereja GKII Intan Jaya, Jemaat Panik Namun Selamat

Papeda.com- Situasi keamanan di Kabupaten Intan Jaya kembali diguncang aksi kekerasan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pada Rabu pagi, 27 Agustus 2025 sekitar pukul 10.30 WIT, jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Bukit Zaitun, Klasis Mboma, Kampung Togoligi, Distrik Agisiga, menjadi sasaran serangan bersenjata ketika sedang melaksanakan acara syukur.

Menurut keterangan Mayor Aibon Kogoya, Komandan Batalion D Dulla TPNPB Kodap VIII Intan Jaya, OPM melakukan penyerangan secara tiba-tiba di halaman gereja yang saat itu sedang ramai oleh jemaat. Jemaat tengah mengadakan acara syukur dalam rangka Hari Ulang Tahun Perkauan Nasional atau HUT Organisasi Perempuan GKII, yang ditandai dengan tradisi bakar batu dan masak bersama.

Serangan tersebut menimbulkan kepanikan di antara jemaat yang hadir. Warga yang sedang mengikuti kegiatan rohani berhamburan menyelamatkan diri ke berbagai arah untuk mencari tempat perlindungan. Meski demikian, beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Seorang tokoh gereja setempat, Pendeta Markus Wandagau, menyampaikan rasa prihatin sekaligus syukur karena jemaat yang hadir berhasil selamat dari serangan itu. “Kami sedang bersyukur kepada Tuhan, tetapi justru diganggu dengan aksi keji yang tidak berperikemanusiaan. Puji Tuhan, tidak ada korban jiwa. Namun, perasaan takut masih menyelimuti jemaat,” ungkapnya, Kamis (28/8/2025).

Tokoh masyarakat Intan Jaya, Yulianus Sondegau, juga mengecam keras aksi OPM tersebut. Menurutnya, rumah ibadah seharusnya menjadi tempat yang suci dan damai, bukan lokasi untuk menebar teror. “Apa yang dilakukan OPM adalah perbuatan biadab. Mereka tidak menghormati gereja, tidak menghormati masyarakat, dan tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Serangan OPM di halaman Gereja GKII Klasis Mboma, Intan Jaya, menambah daftar panjang aksi teror kelompok bersenjata yang menyasar masyarakat sipil. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, trauma dan ketakutan mendalam dirasakan oleh jemaat yang sedang beribadah.

Masyarakat berharap agar aparat keamanan semakin memperketat pengawasan serta menindak tegas kelompok OPM yang terus mengganggu kedamaian di Papua. Warga juga menyerukan agar semua pihak bersatu menjaga kerukunan dan menolak segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan.

 KNPB Nilai Sebby Sambom Bohongi Publik, Bantuan dari Luar Negeri Tak Pernah Ada

Papeda.com- Pernyataan juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, kembali menuai sorotan. Kali ini, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menilai Sebby telah menebarkan kebohongan kepada publik terkait klaim bantuan dari luar negeri yang disebut-sebut mendukung perjuangan kelompok bersenjata di Papua.

KNPB menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada satu pun bukti nyata adanya dukungan dana, logistik, maupun senjata dari pihak internasional. Pernyataan Sebby Sambom, menurut mereka, hanya propaganda untuk menggiring opini seolah-olah perjuangan OPM mendapatkan legitimasi dunia.

Seorang Ketua I KNPB Nabire, Shon Adil menuturkan, pihaknya merasa dirugikan dengan pernyataan Sebby yang tidak sesuai fakta. “Sebby selalu bicara bahwa ada dukungan internasional, tapi sampai sekarang tidak pernah terbukti. Kami melihat itu sebagai kebohongan publik yang hanya menyesatkan masyarakat Papua,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).

Ia menambahkan, narasi bantuan asing seakan menjadi tameng bagi Sebby untuk mempertahankan pengaruhnya di dalam tubuh OPM. Padahal, kenyataannya, masyarakat Papua justru semakin menderita akibat aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata.

Tokoh masyarakat Papua, Martinus Wandosa, menyampaikan bahwa klaim-klaim yang dibuat tanpa dasar hanya memperburuk citra perjuangan Papua di mata dunia internasional. “Dunia internasional bisa menilai sendiri. Jika benar ada dukungan, pasti ada bukti konkret. Sampai sekarang tidak ada. Justru yang terlihat adalah penderitaan rakyat Papua karena konflik yang tidak ada ujungnya,” tegasnya.

Kritik keras dari KNPB terhadap Sebby Sambom menunjukkan adanya ketegangan internal dalam tubuh gerakan separatis Papua. Klaim dukungan asing yang tidak terbukti semakin memperlihatkan lemahnya posisi OPM di tingkat internasional.

Masyarakat berharap agar para tokoh Papua tidak lagi menjual isu-isu yang tidak berdasar, melainkan berfokus pada upaya nyata untuk membangun kedamaian. Propaganda dan kebohongan publik dinilai hanya akan memperpanjang konflik, membuat rakyat Papua semakin jauh dari kesejahteraan dan ketenangan yang mereka idamkan.

 

Masyarakat Lanny Jaya Sepakat Bantu Aparat Keamanan Berantas OPM di Wilayahnya

Papeda.com- Gelombang dukungan masyarakat terhadap upaya pemberantasan kelompok kriminal bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin nyata. Kali ini, masyarakat Kabupaten Lanny Jaya secara tegas menyatakan sepakat membantu Aparat Keamanan (Apkam) dalam menjaga stabilitas wilayah serta menindak aksi-aksi yang dilakukan kelompok OPM.

 “Kami sudah cukup lama menjadi korban ketakutan akibat ulah OPM. Kehadiran mereka membuat masyarakat tidak tenang bekerja di kebun, anak-anak takut ke sekolah, dan aktivitas ekonomi terganggu. Karena itu, kami sepakat untuk bersama-sama mendukung aparat keamanan memberantas mereka,” tegas Yonas Wenda, tokoh adat Lanny Jaya, Rabu (27/8/2025).

Dukungan masyarakat ini dianggap sebagai langkah penting, sebab Apkam tidak bisa bekerja sendiri tanpa kolaborasi dengan warga. Dengan adanya komunikasi yang erat, aparat dapat lebih mudah memperoleh informasi terkait pergerakan OPM di wilayah pegunungan.

Tokoh pemuda setempat, Markus Tabuni, juga menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh lagi terprovokasi oleh isu-isu menyesatkan yang sering dilontarkan kelompok OPM. Menurutnya, OPM kerap memanfaatkan sentimen sejarah dan identitas Papua untuk membenarkan tindakan kekerasan, padahal yang terjadi justru menyengsarakan masyarakat sendiri.

“Sudah terlalu banyak korban dari pihak masyarakat sipil. Kita tidak ingin ada lagi darah yang tertumpah. Justru dengan membantu aparat, kita bisa memastikan Lanny Jaya kembali aman dan pembangunan bisa berjalan. Anak-anak bisa sekolah dengan tenang, mama-mama bisa menjual hasil kebun di pasar tanpa takut,” ujarnya.

Kesepakatan masyarakat Lanny Jaya ini disambut positif oleh berbagai kalangan. Para tokoh menilai, keberanian masyarakat bersatu dan terbuka mendukung Apkam adalah sinyal kuat bahwa warga sudah lelah dengan intimidasi OPM. Dukungan tersebut juga sekaligus menunjukkan bahwa kelompok bersenjata tidak memiliki tempat di tengah masyarakat Papua yang menginginkan kedamaian.

 

OPM Kodap XVI Yahukimo Bakar Honai dan Siksa Warga, Masyarakat Kian Resah

Papeda.com- Aksi brutal kembali dilakukan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Yahukimo. Kali ini, kelompok OPM Kodap XVI yang dipimpin oleh Mayor Enos Kobak membakar honai milik warga dan melakukan penyiksaan terhadap masyarakat hanya karena tidak diberi bahan makanan (bamak). Tindakan tersebut menambah daftar panjang kejahatan OPM terhadap warga sipil yang seharusnya dilindungi.

Menurut keterangan warga, kejadian bermula ketika sekelompok anggota OPM mendatangi pemukiman untuk meminta bahan makanan secara paksa dengan membawa senjata api. Namun karena masyarakat tidak memiliki persediaan yang cukup, mereka menolak memberikan.

“Honai itu hasil kerja keras masyarakat, tempat tinggal dan juga simbol budaya kami. Tapi dengan mudah dibakar begitu saja. Lebih menyakitkan lagi ada warga yang dipukul dan disiksa hanya karena tidak bisa memberikan makanan. Ini jelas perbuatan biadab,” ungkap Yonas Kobogay, tokoh masyarakat Yahukimo, Rabu (76/8/2025).

Aksi kekerasan tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi warga. Banyak keluarga kini memilih mengungsi ke lokasi yang lebih aman karena takut menjadi korban berikutnya. Meski demikian, masyarakat menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan OPM dan siap bekerja sama dengan aparat keamanan untuk menjaga wilayah mereka.

Tokoh adat Yahukimo, Markus Wanimbo, mengecam keras tindakan tersebut. Ia menilai OPM semakin kehilangan arah perjuangan karena justru menyasar rakyat kecil.

“Kalau benar memperjuangkan rakyat, seharusnya mereka melindungi, bukan malah membakar rumah dan menyiksa. Ini bukti bahwa OPM hanya mencari keuntungan dengan cara memeras masyarakat. Mereka tidak punya legitimasi lagi di mata warga Yahukimo,” tegas Markus.

Peristiwa ini menambah bukti bahwa keberadaan OPM hanya menghadirkan penderitaan bagi masyarakat Papua. Dengan membakar honai dan menyiksa warga, OPM kian menunjukkan wajah aslinya sebagai kelompok yang jauh dari kepentingan rakyat. Warga Yahukimo berharap aparat segera mempersempit ruang gerak kelompok tersebut agar keamanan dan kedamaian bisa segera pulih.

 

OPM Terus Ganggu Wilayah Yahukimo, Masyarakat Tak Gentar untuk Melawan

Papeda.com- Situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo kembali terganggu akibat ulah kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Berbagai aksi intimidasi, penembakan, hingga pemalangan jalan yang dilakukan kelompok tersebut telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Namun, alih-alih gentar, masyarakat Yahukimo justru semakin kompak menyatakan sikap untuk melawan dan mendukung langkah tegas Aparat Keamanan (Apkam).

 “Kami sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan. OPM datang merusak kedamaian, mereka menodong warga, membakar rumah, bahkan mengganggu anak-anak sekolah. Kami tidak akan tinggal diam. Masyarakat Yahukimo siap berdiri bersama aparat untuk melawan mereka,” tegas Elius Hubi, salah satu tokoh adat Yahukimo, Rabu (27/8/2025).

Senada dengan itu, Markus Walilo, tokoh pemuda Yahukimo, menilai perlawanan masyarakat terhadap OPM bukan hanya demi keamanan, tetapi juga untuk masa depan generasi muda. Menurutnya, jika gangguan OPM dibiarkan, anak-anak Yahukimo tidak akan bisa bersekolah dengan tenang dan pembangunan daerah akan terus terhambat.

“OPM hanya membuat rakyat menderita. Mereka tidak membawa masa depan, yang ada hanya darah dan air mata. Karena itu, kami generasi muda harus berani melawan, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan semangat persatuan, pendidikan, dan dukungan penuh kepada aparat keamanan,” ujarnya.

Di sisi lain, aparat keamanan terus memperkuat patroli dan koordinasi dengan masyarakat. Dukungan warga dianggap sangat penting untuk mempersempit ruang gerak OPM di wilayah Yahukimo. Kehadiran masyarakat yang berani bersuara terbuka menolak OPM juga menjadi bukti bahwa kelompok tersebut semakin kehilangan simpati.

Masyarakat Yahukimo kini menegaskan tekadnya, mereka tidak akan gentar, meski teror terus dilakukan OPM. Bersama aparat keamanan, warga berkomitmen untuk menjaga tanah mereka agar kembali aman, damai, dan sejahtera.

 

Sebby Sambom Tuding Egianus Kogoya Hanya Jadikan Nama Besar OPM Sebagai Tameng

Papeda.com- Ketegangan internal dalam tubuh Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali mencuat ke publik. Kali ini, juru bicara OPM, Sebby Sambom, menuding keras pimpinan kelompok bersenjata Kodap III Ndugama-Derakma, Egianus Kogoya, karena dianggap hanya menggunakan nama besar OPM sebagai tameng untuk mencari popularitas pribadi.

Dalam pernyataannya, Sebby menyebut Egianus tidak lagi mengedepankan perjuangan, melainkan lebih banyak melakukan aksi yang menyengsarakan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tindakan Egianus yang kerap melakukan penyanderaan, penembakan warga sipil, serta pengrusakan fasilitas umum, justru mencoreng citra OPM dan mengundang kecaman luas.

“Egianus Kogoya hanya menjadikan nama OPM sebagai alat untuk menutupi kepentingan pribadi. Dia mencari popularitas lewat aksi-aksi keji yang sama sekali tidak mencerminkan perjuangan. Justru masyarakat Papua yang menjadi korban dari tindakannya,” ujar Sebby dalam keterangan tertulisnya, Rabu (27/8/2025).

Pernyataan Sebby ini semakin mempertegas adanya perpecahan di tubuh OPM. Sebelumnya, beberapa pimpinan OPM di wilayah lain juga menyuarakan kekecewaan terhadap aksi Egianus yang dinilai lebih berorientasi pada kekerasan dibanding perjuangan politik.

Tokoh masyarakat Papua, Yulianus Wenda, menilai bahwa konflik internal tersebut adalah cermin bahwa OPM sudah kehilangan arah perjuangan. Menurutnya, perebutan pengaruh di tubuh OPM hanya memperlihatkan bahwa kelompok itu tidak memiliki visi yang jelas.

“Kalau mereka benar berjuang, seharusnya bersatu untuk masyarakat. Tapi yang terjadi justru saling serang satu sama lain. Ini membuktikan bahwa OPM hanyalah kelompok yang mementingkan kepentingan pribadi para pemimpinnya,” ucap Yulianus.

Dengan semakin jelasnya perpecahan di kalangan elite OPM, banyak pihak berharap masyarakat Papua tidak lagi terpengaruh oleh propaganda kelompok tersebut. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk lebih fokus mendukung pembangunan dan menjaga persatuan demi masa depan Papua yang damai dan sejahtera.

 

Tingkatkan SDM Papua, Program Pendampingan Bagi Mahasiswa Digelar di Jayapura

Papeda.com- Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Papua terus digencarkan melalui berbagai program pendampingan dan penguatan kapasitas generasi muda. Salah satunya terlihat dalam kegiatan seminar dan diskusi yang diselenggarakan di Asrama Mahasiswa Pegunungan Bintang, Kota Studi Jayapura, Jalan Raya Buper Waena, Distrik Heram, pada Senin (25/8/2025) pukul 15.00–18.30 WIT.

Kegiatan yang diikuti sekitar 50 mahasiswa ini menghadirkan motivator Papua, Kaka Jose, dengan mengusung tema “Budaya Papua adalah Kekuatan untuk Kemajuan Papua.” Dalam kesempatan tersebut, Kaka Jose menekankan bahwa pendidikan merupakan modal utama untuk membangun masa depan Papua yang lebih cerah.

“Mahasiswa Papua tidak hanya dituntut untuk mengejar gelar akademik, tetapi juga harus membentuk karakter, sikap kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan. Karakter dan disiplin adalah kunci yang akan membuka peluang serta menumbuhkan kepercayaan dari masyarakat. Banyak orang pintar, tetapi hanya mereka yang berkarakter dan disiplin yang akan dipercaya untuk memegang tanggung jawab besar,” ujarnya di hadapan peserta.

Lebih lanjut, Kaka Jose mengingatkan bahwa mahasiswa Papua harus mampu menjadi teladan, baik bagi adik-adik kelas maupun masyarakat luas. Menurutnya, sikap sopan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama merupakan modal sosial penting untuk menciptakan lingkungan yang harmonis.

“Mahasiswa Papua harus bisa menunjukkan perilaku yang baik. Mereka adalah agen perubahan yang memiliki peran penting dalam mendorong Papua menuju masa depan yang maju,” tambahnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memahami perbedaan antara budaya dan sejarah Papua. Sejarah kelam yang masih menjadi beban tidak boleh dijadikan penghalang, melainkan pelajaran untuk bangkit. Mahasiswa, kata dia, harus aktif dan menjadi jembatan kemajuan Papua dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal sebagai kekuatan utama.

Pembangunan Papua tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi lebih pada kualitas manusia yang menjadi penggerak utamanya, khususnya Orang Asli Papua (OAP). Generasi muda Papua sebagai aset masa depan memerlukan bimbingan dan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri mereka, baik dalam bidang akademik, karakter, maupun kepemimpinan.

 

Masyarakat Terpaksa Berjalan Kaki untuk Menjual Bama, Akibat Gangguan OPM di Jalan Trans Nabire

Papeda.com- Akses transportasi masyarakat di Kabupaten Nabire kembali terganggu akibat ulah kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kerap menghadang pengguna jalan di ruas Trans Nabire. Kondisi tersebut membuat warga harus menempuh perjalanan kaki berjam-jam hanya untuk menjual Bahan Makanan (Bamak) ke pasar.

Situasi ini sangat dirasakan oleh masyarakat pedalaman yang menggantungkan hidup dari hasil kebun. Salah seorang warga Kampung Siriwo, Markus (45), mengaku harus berjalan kaki sejauh puluhan kilometer untuk membawa hasil bumi ke pusat kota Nabire. Menurutnya, jalan Trans Nabire yang seharusnya menjadi jalur utama kini terasa menakutkan karena sering muncul ancaman dari kelompok OPM.

“Kami hanya mau cari makan dengan menjual hasil kebun. Tapi karena ada gangguan dari OPM, kendaraan tidak bisa lewat, jadi kami pilih jalan kaki. Jaraknya jauh, capek sekali, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).

Selain itu, tokoh agama di Nabire, Pdt. Samuel Yoteni, mengingatkan bahwa aksi kekerasan dan pemalangan jalan tidak sejalan dengan nilai kemanusiaan maupun ajaran agama. “Kalau benar berjuang untuk rakyat, jangan sampai membuat rakyat lapar dan sengsara. Tuhan tidak pernah mengajarkan kekerasan sebagai jalan keluar,” ujarnya.

Meski terpaksa berjalan kaki, warga tetap berupaya mempertahankan aktivitas ekonomi mereka. Namun, mereka berharap kondisi keamanan segera pulih sehingga kendaraan bisa kembali melintas di jalur Trans Nabire.

“Kami ingin hidup aman, bisa berjualan hasil kebun dengan tenang, tanpa rasa takut. Tidak ada orang Papua yang mau terus hidup dalam ketakutan karena ulah segelintir orang,” kata Markus dengan nada tegas.

 

Generasi Muda Papua Terampas Akibat Kehadiran OPM

Papeda.com- Kehadiran kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak hanya menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, tetapi juga merampas masa depan generasi muda Papua. Kekerasan, pemalangan jalan, penyerangan terhadap fasilitas pendidikan, hingga penyebaran ideologi menyimpang yang dilakukan OPM, dinilai telah menutup ruang tumbuh bagi anak-anak dan remaja Papua untuk berkembang secara sehat.

Gangguan keamanan yang terus berulang di beberapa wilayah pegunungan Papua berdampak langsung pada proses pendidikan. Beberapa sekolah terpaksa ditutup sementara karena aksi kekerasan dari kelompok bersenjata. Kondisi ini tentu saja menghambat kesempatan generasi muda untuk mendapatkan pendidikan layak.

Selain mengganggu pendidikan, OPM juga disebut sering menyusupkan paham separatis kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja dijadikan alat propaganda dengan iming-iming perjuangan, padahal kenyataannya mereka diarahkan ke jalan penuh kekerasan.

Kepala suku di Intan Jaya, Yacobus Wakerkwa, menegaskan bahwa hal ini sangat berbahaya. “Generasi muda seharusnya dibina agar menjadi pemimpin masa depan. Tapi OPM justru mencuci otak mereka dengan kebencian. Kalau dibiarkan, masa depan Papua akan hancur,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).

Kehadiran OPM juga menimbulkan trauma mendalam bagi anak-anak Papua. Banyak yang tumbuh dalam suasana penuh kekerasan, sehingga kehilangan kesempatan untuk menikmati masa kecil secara wajar. Tokoh gereja di Timika, Pdt. Hendrik Yoteni, mengungkapkan bahwa kekerasan tidak pernah membawa kebaikan bagi generasi penerus. “Anak-anak tidak seharusnya melihat senjata, apalagi kekerasan. Tugas kita adalah menjaga mereka, bukan menakut-nakuti,” katanya.

Masyarakat Papua menilai bahwa pembangunan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan hanya dapat berjalan jika situasi keamanan terjamin. Karena itu, mereka berharap pemerintah bersama aparat keamanan terus menjaga stabilitas wilayah agar generasi muda dapat tumbuh tanpa tekanan.

“Kami ingin anak-anak kami bisa sekolah, bisa bermimpi menjadi dokter, guru, atau pemimpin. Semua itu akan hilang kalau OPM terus mengganggu. Kami tidak mau generasi muda Papua terampas lagi,” tegas Yacobus.

Kelompok OPM Aibon Kogoya Serang Warga Sipil yang Tidak Bersalah Secara Membabi Buta Papeda.com- Aksi brutal kembali dilakukan oleh kelomp...