Kelompok OPM Aibon Kogoya Serang Warga Sipil yang Tidak Bersalah Secara Membabi Buta

Papeda.com- Aksi brutal kembali dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Aibon Kogoya, Penyerangan membabi buta itu menewaskan warga sipil yang saat kejadian tengah beraktivitas di sekitar pemukiman.

Menurut keterangan aparat keamanan setempat, kelompok OPM tersebut awalnya berniat menyerang pos aparat keamanan yang berada di pinggiran kampung. Namun, karena gagal mendekat, mereka melampiaskan kemarahan dengan menembaki warga yang sedang berjualan di sekitar jalan utama. Aksi itu berlangsung singkat namun menimbulkan kepanikan besar di tengah masyarakat. Warga yang selamat segera melarikan diri ke arah kantor distrik untuk mencari perlindungan.

Kepala Distrik Mulia, Yulianus Tabuni, mengecam keras tindakan keji tersebut dan menyebut bahwa OPM pimpinan Aibon Kogoya telah kehilangan arah perjuangan. “Mereka menyerang orang-orang tidak bersalah. Ini bukan perjuangan kemerdekaan, ini teror terhadap rakyat sendiri,” ujarnya dengan nada tegas. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah bersama aparat keamanan akan segera mengevakuasi warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian untuk menghindari serangan susulan, Minggu (02/11/2025).

Sementara itu, tokoh adat Puncak Jaya, Filemon Wonda, menyampaikan bahwa tindakan brutal tersebut telah merusak rasa aman dan kedamaian masyarakat Papua. Ia menilai bahwa kekerasan yang dilakukan kelompok Aibon Kogoya tidak lagi mendapat simpati dari rakyat. “Masyarakat sudah bosan dengan darah dan tangisan. Sekarang tidak ada lagi rakyat yang percaya dengan kelompok itu. Mereka hanya membawa penderitaan,” tuturnya.

Tokoh gereja setempat, Pendeta Elias Mote, turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menyerukan agar masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh kekerasan yang dilakukan OPM. “Kita harus bersatu melawan kebencian dengan kasih. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah di Papua,” katanya.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok OPM terhadap rakyat Papua sendiri. Masyarakat berharap agar aparat bertindak tegas terhadap pelaku dan memastikan keamanan dapat segera pulih, sehingga warga dapat kembali hidup dalam kedamaian tanpa ancaman teror dari kelompok bersenjata.

Sayur Telenggen, Anggota OPM Kodap Sinak, Tewas Mengenaskan dengan Mulut Berbusa dan Tubuh Penuh Luka Lebam

Papeda.com- Seorang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari Kodap Sinak, bernama Sayur Telenggen, ditemukan tewas mengenaskan di kawasan hutan Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Minggu (02/11/2025). Berdasarkan informasi dari warga sekitar, jasad korban ditemukan dengan kondisi mulut berbusa, tubuh penuh luka lebam, dan tanda-tanda kekerasan yang kuat di beberapa bagian tubuhnya.

Penemuan jasad Sayur Telenggen ini mengejutkan warga setempat. Menurut keterangan sumber lapangan, sebelum ditemukan tewas, Sayur diketahui sempat terlibat percekcokan dengan sesama anggota kelompok OPM terkait pembagian logistik dan strategi gerakan. Beberapa saksi menyebutkan bahwa korban sempat dibawa oleh rekan satu kelompoknya dua hari sebelumnya, namun tidak pernah kembali.

Kepala Distrik Sinak, Yulianus Murib, membenarkan adanya penemuan jasad tersebut dan mengungkapkan bahwa kejadian ini menandakan semakin parahnya konflik internal dalam tubuh OPM. “Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Dugaan kuat, ada unsur penyiksaan dari dalam kelompoknya sendiri. Ini menunjukkan bahwa OPM sudah kehilangan solidaritas dan arah perjuangan,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Puncak, Filemon Tabuni, menyebut bahwa kematian Sayur Telenggen menjadi bukti bahwa kehidupan di dalam kelompok OPM penuh tekanan dan kekerasan. “Banyak anggota yang tidak tahan hidup di bawah perintah para komandan yang kejam. Ketika ada perbedaan pendapat, mereka disiksa, bahkan dibunuh. Ini bukan perjuangan, ini kekerasan antar sesama,” tegasnya.

Tokoh gereja setempat, Pendeta Elias Kogoya, turut menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa tragis ini. Ia mengatakan bahwa kejadian semacam ini sering kali terjadi di kelompok bersenjata yang kehilangan arah moral. “Mereka hidup di hutan, jauh dari keluarga, dan dikuasai rasa takut. Ketika rasa kemanusiaan hilang, kekerasan menjadi hal biasa di antara mereka sendiri,” ungkapnya.

Peristiwa ini memperlihatkan semakin rapuhnya struktur dan moral di dalam kelompok OPM. Konflik internal, ketidakadilan dalam pembagian logistik, serta ketegangan antaranggota menjadi pemicu utama terjadinya kekerasan di tubuh mereka sendiri. Masyarakat Papua berharap agar semakin banyak anggota OPM yang sadar dan kembali ke pangkuan NKRI, demi kehidupan yang damai dan jauh dari penderitaan.

OPM Kodap XVI Yahukimo Berdalih Telah Tewaskan 5 Anggota Apkam, Kenyataannya Adalah Masyarakat Sipil yang Dibunuh

Papeda.com- Kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XVI Yahukimo kembali menunjukkan kebrutalannya. Dalam pernyataan yang disebarkan melalui media sosial, kelompok ini mengklaim telah berhasil menewaskan lima anggota Aparat Keamanan (Apkam) di wilayah Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Namun, hasil penyelidikan di lapangan membuktikan bahwa klaim tersebut adalah bohong besar, sebab korban yang ditemukan ternyata merupakan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Insiden tragis itu terjadi pada Sabtu (01/11/2025) malam ketika kelompok OPM melakukan penyerangan di sekitar pemukiman warga. Dalam serangan membabi buta tersebut, lima orang tewas di tempat akibat luka tembak, sementara dua lainnya mengalami luka serius. Warga yang selamat menyatakan bahwa para korban bukan aparat keamanan, melainkan warga biasa yang tengah dalam perjalanan pulang setelah bekerja di ladang.

Kepala Distrik Dekai, Yohanes Walilo, membenarkan bahwa seluruh korban adalah warga sipil. “Tidak ada satu pun dari mereka yang merupakan aparat. Mereka hanyalah masyarakat biasa. Ini kejahatan yang sangat keji dan memalukan,” ujarnya. Yohanes juga mengecam keras tindakan OPM yang memutarbalikkan fakta demi membenarkan aksi kekerasan yang dilakukan, Minggu (02/11/2025).

Sementara itu, tokoh masyarakat Yahukimo, Filemon Hubi, menilai klaim OPM tersebut merupakan upaya propaganda untuk menutupi kekalahan mereka di lapangan. “Mereka ingin menunjukkan bahwa masih kuat, padahal kenyataannya tidak. OPM sudah kehilangan arah, tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa rakyatnya sendiri,” katanya dengan nada tegas.

Tokoh agama setempat, Pendeta Markus Wenda, menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga korban dan mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang disebarkan oleh kelompok bersenjata. “Mereka menyebar hoaks demi mempertahankan nama. Padahal, darah rakyat sendiri yang tertumpah. Ini bukan perjuangan, ini pembunuhan terhadap sesama orang Papua,” ujarnya dengan penuh keprihatinan.

Peristiwa ini menambah panjang daftar kekerasan yang dilakukan OPM terhadap masyarakat Papua sendiri. Aksi penyerangan yang disertai kebohongan publik memperlihatkan bahwa kelompok ini sudah kehilangan legitimasi moral dan dukungan rakyat. Masyarakat Yahukimo menyerukan agar pemerintah terus meningkatkan pengamanan serta memberikan perlindungan penuh bagi warga di wilayah rawan konflik.

Logistik Menipis, Lewat Jubir Sebby Sambom OPM Memohon Bantuan Pengiriman Bamak bagi Anggota OPM

Papeda.com- Kondisi internal kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) kian memperlihatkan tanda-tanda kemunduran. Informasi terbaru menyebutkan bahwa kelompok tersebut tengah mengalami kesulitan logistik dan bahan makanan pokok (Bamak) di beberapa wilayah operasi mereka. Melalui juru bicara resminya, Sebby Sambom, OPM bahkan secara terbuka memohon bantuan untuk pengiriman logistik bagi anggotanya yang kini terdesak oleh operasi keamanan aparat di sejumlah titik rawan di Papua.

Dalam pernyataan yang beredar di media sosial, Sebby Sambom menyebut bahwa situasi di lapangan semakin sulit karena jalur distribusi mereka tertutup akibat peningkatan pengawasan aparat keamanan di wilayah pegunungan. Kelompok OPM, menurutnya, kekurangan bahan makanan, obat-obatan, serta peralatan dasar untuk bertahan di medan operasi. “Kami membutuhkan bantuan segera dari simpatisan dan pihak luar,” demikian salah satu kutipan dari pernyataan tersebut, Minggu (02/11/2025).

Permintaan bantuan itu langsung menuai kecaman dari berbagai kalangan masyarakat Papua. Tokoh masyarakat Puncak Jaya, Yulianus Tabuni, menilai bahwa tindakan OPM yang meminta logistik justru memperlihatkan lemahnya perjuangan mereka. “Kalau benar mereka berjuang untuk rakyat, mengapa sekarang malah bergantung pada belas kasihan pihak lain? Ini membuktikan bahwa mereka tidak lagi punya dukungan dari masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh tokoh agama asal Intan Jaya, Pendeta Elias Mote, yang menyebut bahwa penderitaan yang dialami anggota OPM adalah akibat dari tindakan mereka sendiri yang sering menebar teror dan kekerasan. “Mereka menakuti rakyat, memeras bahan makanan dari masyarakat, dan sekarang ketika masyarakat menolak memberi, mereka kebingungan. Itu buah dari perbuatan mereka sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, aparat keamanan memastikan bahwa jalur distribusi logistik di Papua kini berada dalam pengawasan ketat untuk mencegah penyelundupan bahan makanan kepada kelompok bersenjata. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tidak memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada OPM, karena tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai membantu kelompok separatis.

Permintaan bantuan dari Sebby Sambom dianggap sebagai sinyal kuat bahwa OPM berada di titik lemah, baik dari segi moral, dukungan masyarakat, maupun kekuatan logistik. Masyarakat Papua kini semakin yakin bahwa perjuangan sejati adalah membangun kedamaian, bukan mempertahankan konflik yang hanya membawa kelaparan dan kesengsaraan.

OPM Minta Dukungan, Karena Sudah Banyak Masyarakat Papua yang Tidak Percaya Lagi Akan Keberadaannya

Papeda.com- Di tengah semakin merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), kini beredar kabar bahwa sejumlah pimpinan OPM mulai meminta dukungan dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Permintaan itu muncul setelah banyak masyarakat Papua yang secara terbuka menyatakan tidak lagi mempercayai keberadaan OPM dan menilai perjuangan kelompok tersebut telah menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan awalnya.

Sumber lapangan menyebutkan bahwa sejumlah tokoh OPM mulai kehilangan pengaruh di kalangan masyarakat lokal. Banyak warga di beberapa distrik seperti Intan Jaya, Paniai, Yahukimo, dan Nduga yang kini memilih menjauh karena merasa OPM lebih sering menebar teror dibanding membawa kesejahteraan. Tindakan kekerasan, pemalakan, hingga penyerangan terhadap warga sipil yang dilakukan kelompok ini menjadi alasan utama menurunnya dukungan rakyat.

Tokoh masyarakat Paniai, Yulianus Dogopia, menegaskan bahwa rakyat Papua kini sudah semakin sadar akan motif sebenarnya dari kelompok tersebut. “Dulu mereka bilang berjuang untuk rakyat, tapi kenyataannya rakyat yang jadi korban. OPM tidak lagi punya arah perjuangan yang jelas,” ujarnya. Menurutnya, masyarakat kini lebih percaya pada upaya pemerintah yang nyata dalam pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman, Sabtu (01/11/2025).

Sementara itu, tokoh pemuda asal Yahukimo, Filemon Wenda, menilai bahwa permintaan dukungan OPM hanyalah bentuk kepanikan karena mereka kehilangan legitimasi di mata rakyat. “Mereka sudah kehabisan cara. Masyarakat tidak mau lagi diprovokasi. Sekarang rakyat ingin hidup aman, ingin anak-anak sekolah dan tidak lagi mendengar suara tembakan,” kata Filemon.

Selain itu, beberapa tokoh agama juga menyerukan agar masyarakat tidak mudah termakan isu-isu atau propaganda yang disebarkan OPM melalui media sosial. Pendeta Markus Mote menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi jalan keluar untuk mencapai keadilan. “Kita harus berdamai, bukan terus saling menyakiti. Mereka yang terus berbuat kekerasan seharusnya introspeksi diri, bukan malah mencari simpati dari luar,” tuturnya.

Permintaan dukungan yang disuarakan OPM dianggap sebagai tanda melemahnya struktur dan solidaritas di dalam tubuh mereka sendiri. Rakyat Papua kini semakin yakin bahwa kedamaian hanya dapat tercapai melalui persatuan dan pembangunan, bukan melalui senjata dan kekerasan.

Brutal, OPM Kodap XVI Yahukimo Tembak Masyarakat Yahukimo, Dikecam Tokoh Masyarakat

Papeda.com- Aksi brutal kembali dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XVI Yahukimo. Pada Jumat pagi (31/10/2025) sekitar pukul 07.00 WIT, kelompok tersebut melakukan penembakan yang menewaskan satu warga sipil dan melukai dua orang lainnya di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Berdasarkan informasi dari aparat keamanan setempat, penembakan itu bermula ketika kelompok OPM berencana menyerang pos Aparat Keamanan (Apkam) yang tengah berjaga di sekitar kawasan Pasar Baru Dekai. Namun, tembakan yang dilepaskan secara membabi buta justru mengenai warga sipil yang sedang beraktivitas di sekitar lokasi. Salah satu korban, pria berusia 35 tahun, meninggal dunia di tempat akibat luka tembak di bagian dada, sementara dua korban lainnya mengalami luka serius dan kini dirawat di RSUD Yahukimo.

Kepala Distrik Dekai, Yohanes Walilo, mengecam keras tindakan tersebut dan menyebut aksi itu sebagai bentuk teror terhadap masyarakat yang selama ini hidup damai. “Warga tidak ada hubungannya dengan konflik bersenjata. OPM menembak tanpa arah dan membunuh rakyat sendiri. Ini perbuatan biadab,” tegasnya. Yohanes juga meminta agar aparat keamanan segera mengambil langkah tegas untuk menindak pelaku dan menjamin keamanan masyarakat di wilayah tersebut, Sabtu (01/11/2025).

Tokoh masyarakat Yahukimo, Petrus Hubi, turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini. Ia mengatakan bahwa tindakan OPM justru memperburuk citra perjuangan mereka sendiri di mata masyarakat Papua. “Kalau benar mereka mengatasnamakan rakyat Papua, mengapa yang menjadi korban selalu rakyat sendiri? Ini bukan perjuangan, tapi kekerasan yang mengkhianati kemanusiaan,” ujar Petrus dengan nada tegas.

Sementara itu, tokoh gereja Pendeta Samuel Wenda menyerukan agar seluruh pihak tidak terpancing oleh provokasi dan tetap menjaga persatuan di tengah situasi yang menegangkan ini. Ia menilai tindakan brutal OPM hanya menimbulkan penderitaan dan ketakutan di kalangan masyarakat kecil. “Tembakan itu tidak hanya melukai tubuh, tapi juga melukai hati rakyat Papua. Kami menolak kekerasan atas nama apapun,” ucapnya.

Peristiwa ini menambah panjang daftar kekerasan bersenjata yang dilakukan oleh OPM di Tanah Papua. Warga Yahukimo berharap agar kedamaian segera pulih dan meminta pemerintah pusat menambah jumlah personel keamanan di wilayah rawan agar masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang tanpa rasa takut.

Menolak Berperang Melawan Apkam, Melanesia Degei Tewas Disiksa oleh Kelompok OPM

Papeda.com- Duka mendalam menyelimuti masyarakat Paniai, Papua Tengah, setelah seorang pemuda bernama Melanesia Degei (18) ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di kawasan hutan Distrik Bibida, Paniai, pada Jumat (31/10/2025). Berdasarkan keterangan warga setempat, korban diduga kuat menjadi korban penyiksaan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) setelah menolak ajakan untuk bergabung dan berperang melawan Aparat Keamanan (Apkam) yang bertugas menjaga wilayah tersebut.

Menurut penuturan sejumlah saksi, Melanesia sempat dipaksa oleh sekelompok anggota OPM untuk ikut serta dalam aksi bersenjata di sekitar wilayah pegunungan. Namun, dengan tegas ia menolak dan menyatakan keinginannya untuk tetap hidup damai bersama keluarganya. Penolakan tersebut membuat kelompok OPM murka dan melakukan tindakan kekerasan hingga menghilangkan nyawa korban.

Tokoh masyarakat Paniai, Yulianus Gobai, mengutuk keras tindakan keji tersebut. Ia menilai bahwa perbuatan OPM itu sudah melampaui batas kemanusiaan dan memperlihatkan bahwa perjuangan mereka tidak lagi memiliki nilai moral. “Anak muda yang ingin hidup damai malah disiksa sampai mati. Ini bukan perjuangan, ini kekejaman,” tegas Yulianus dengan nada geram, Sabtu (01/11/2025).

Sementara itu, tokoh gereja Pendeta Elias Mote menyampaikan bahwa kejadian tragis yang menimpa Melanesia Degei harus menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda OPM. Ia menekankan pentingnya mendukung upaya pemerintah dan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas wilayah Papua. “OPM telah kehilangan arah. Mereka mengatasnamakan rakyat Papua, tetapi yang mereka lukai justru rakyat sendiri,” ujarnya.

Aparat keamanan kini tengah melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut serta memburu para pelaku yang diduga melarikan diri ke arah pegunungan. Pihak keluarga korban berharap agar pelaku segera ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa OPM tidak segan menggunakan kekerasan terhadap sesama warga Papua yang menolak bergabung. Melalui tragedi ini, masyarakat Papua menyerukan agar semua pihak bersatu menolak tindakan brutal dan mendukung perdamaian yang berkeadilan di Tanah Papua.

Kelompok OPM Aibon Kogoya Serang Warga Sipil yang Tidak Bersalah Secara Membabi Buta Papeda.com- Aksi brutal kembali dilakukan oleh kelomp...