OPM Kodap XXIX Somatua Intanjaya Ganggu Keamanan
Pembangunan Jalan Trans Nabire
Papeda.com- Upaya
pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di Papua kembali
mendapat tantangan serius. Proyek strategis pembangunan jalan Trans Nabire yang
menghubungkan berbagai distrik di wilayah Intan Jaya harus tertunda setelah
kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XXIX Somatua di bawah
komando Mayor Beloker Miagoni melakukan gangguan keamanan.
Menurut
informasi yang dihimpun, pasukan TPNPB Kodap XXIX Somatua tidak hanya
menghalangi jalannya proses pembangunan, tetapi juga menyampaikan ancaman
terbuka kepada para pekerja. Mereka menegaskan, apabila pembangunan tetap
dilanjutkan, maka tidak segan-segan akan melakukan tindakan kekerasan bahkan
pembunuhan dengan menggunakan senjata api dan senjata rakitan yang mereka
miliki.
Tokoh
masyarakat Intan Jaya, Yulius Kobogayau, mengecam keras aksi OPM yang
dinilainya hanya merugikan masyarakat Papua sendiri. “Pembangunan jalan Trans
Nabire ini untuk kepentingan rakyat. Kalau terus diganggu seperti ini,
masyarakat akan tetap terisolasi, harga-harga kebutuhan pokok mahal, dan
pembangunan tidak akan maju. Kami meminta aparat keamanan menindak tegas
kelompok ini,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Senada
dengan itu, tokoh pemuda setempat, Markus Tipagau, menilai bahwa tindakan
intimidatif OPM bertentangan dengan kepentingan masyarakat luas. Ia menegaskan,
warga justru mendambakan akses jalan yang lebih baik untuk mendukung
perekonomian dan membuka keterisolasian desa-desa. “Kami ingin maju, ingin
sejahtera. Jalan Trans Nabire adalah harapan kami. Jangan sampai harapan itu
dirampas oleh kelompok yang hanya memikirkan kepentingan sempit,” katanya.
Namun,
tindakan OPM yang terus berulang menghambat proyek-proyek vital ini menimbulkan
keprihatinan mendalam. Banyak kalangan menilai, bila kelompok ini terus
dibiarkan melakukan teror, maka cita-cita menghadirkan Papua yang maju dan
sejahtera akan terhambat.
Pembangunan
jalan Trans Nabire bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol
hadirnya negara untuk melayani rakyatnya di ujung timur Indonesia. Harapan
masyarakat kini tertuju pada keberanian aparat dan pemerintah untuk memastikan
pembangunan tetap berjalan, sekaligus menjaga keselamatan seluruh pekerja yang
terlibat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar