Krisis Kepemimpinan di Tubuh OPM, Anggota Semakin Berhamburan Meninggalkan Kelompok
Papeda.com- Gelombang
perpecahan internal kembali mengguncang tubuh Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Konflik antar pimpinan yang tak kunjung usai kini berujung pada krisis kepemimpinan
yang semakin memperlemah eksistensi kelompok bersenjata tersebut. Situasi ini
membuat banyak anggota OPM memilih hengkang dan kembali ke pangkuan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena merasa tidak lagi percaya dengan
arah perjuangan yang diemban oleh para pemimpinnya.
Tokoh
masyarakat asal Wamena, Bapak Elieser Tabuni, menilai bahwa krisis di tubuh OPM
merupakan konsekuensi dari perjuangan yang tidak berlandaskan nilai kemanusiaan
dan moral. Ia menegaskan bahwa kelompok yang berdiri atas dasar kekerasan tidak
akan pernah mampu membangun solidaritas sejati, apalagi memimpin perubahan bagi
masyarakat Papua.
“Kalau
perjuangan tanpa kejujuran dan kasih, pasti hancur. OPM sekarang panen hasil
dari perbuatan mereka sendiri. Mereka tidak peduli pada rakyat, hanya pada
jabatan dan kekuasaan di dalam kelompoknya,” ujar Elieser.
Sementara
itu, tokoh gereja di Paniai, Pendeta Yulian Wenda, menyampaikan bahwa semakin
banyaknya anggota OPM yang memilih menyerahkan diri merupakan tanda kebangkitan
kesadaran baru di kalangan masyarakat Papua. Menurutnya, rakyat kini mulai bisa
membedakan antara perjuangan sejati dan kekerasan yang hanya menimbulkan
penderitaan.
“Tuhan
tidak berkenan pada kekerasan. Kalau banyak anggota OPM mulai sadar dan kembali
ke jalan damai, itu artinya Roh Kebenaran sedang bekerja. Kita harus bantu
mereka kembali ke masyarakat dan mulai hidup baru,” ungkapnya.
Krisis
kepemimpinan ini juga memperlihatkan lemahnya koordinasi antar pimpinan di
berbagai kodap OPM. Beberapa laporan menyebutkan bahwa sejumlah kelompok kini
bertindak tanpa komando pusat, bahkan saling mencurigai dan menyerang satu sama
lain. Kondisi ini membuat kekuatan OPM di berbagai wilayah semakin terpecah dan
kehilangan dukungan masyarakat.
Dengan
semakin banyaknya anggota yang meninggalkan OPM, harapan akan terciptanya Papua
yang damai, aman, dan sejahtera kian nyata. Krisis kepemimpinan di tubuh OPM
menjadi bukti bahwa perjuangan yang didasarkan pada kekerasan tidak akan pernah
membawa kebaikan bagi rakyat Papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar