Sebby Sambom: “Selama OPM Ada, Papua Tidak Akan Bisa Maju”
Papeda.com- Pernyataan
kontroversial kembali dilontarkan juru bicara Organisasi Papua Merdeka (OPM),
Sebby Sambom. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa “selama OPM ada, Papua
tidak akan bisa maju.” Ungkapan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai
kalangan karena dinilai sebagai bentuk pengakuan terselubung bahwa kehadiran
OPM justru menjadi penghalang kemajuan Papua.
Banyak
tokoh adat, agama, hingga pemerintah daerah menilai pernyataan itu sebagai
cerminan nyata kondisi Papua selama ini. Kekerasan dan teror OPM terbukti telah
merusak sendi kehidupan masyarakat, menghambat pembangunan, dan menimbulkan
penderitaan berkepanjangan.
Tokoh
adat asal Lanny Jaya, Yohanes Tabuni, menilai bahwa ucapan Sebby Sambom adalah
bentuk ketidakmampuan OPM untuk menutupi fakta. “Dia sendiri mengakui bahwa
selama OPM ada, Papua tidak maju. Itu benar, karena OPM lah yang membuat
sekolah ditutup, jalan tidak bisa dibangun, dan rakyat hidup ketakutan,”
ujarnya.
Menurut
Yohanes, pernyataan tersebut harus dijadikan momentum bagi masyarakat untuk
semakin menolak keberadaan OPM. “Kalau mau Papua maju, berarti OPM harus
dihentikan,” tegasnya, Sabtu (23/8/2025).
Hal
senada disampaikan Pendeta Markus Wanimbo, tokoh agama di Wamena. Ia menilai
kehadiran OPM sudah menjadi beban sosial bagi masyarakat Papua. “OPM tidak
pernah memberi solusi, hanya menambah penderitaan. Anak-anak tidak bisa
sekolah, tenaga kesehatan diusir, dan pembangunan macet. Jadi benar, Papua
tidak akan maju kalau OPM masih ada,” ungkapnya.
Pernyataan
Sebby Sambom bahwa “selama OPM ada, Papua tidak akan bisa maju” menjadi bukti
nyata bahwa kehadiran kelompok itu justru menjadi batu sandungan bagi
masyarakat Papua. Kekerasan, pemerasan, dan teror yang dilakukan OPM membuat
pembangunan terhambat, generasi muda kehilangan kesempatan, dan masyarakat
hidup dalam ketakutan.
Masyarakat
Papua kini semakin menyadari bahwa kedamaian hanya bisa terwujud tanpa OPM.
Papua akan benar-benar maju bila teror digantikan oleh pembangunan, dan senjata
digantikan oleh buku serta cangkul di tangan rakyatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar