Kehadiran
OPM Buat Papua Semakin Tertinggal dan Penuh Penderitaan
Papeda.com- Harapan
masyarakat Papua untuk hidup sejahtera dan meraih kemajuan masih kerap
terhambat akibat ulah kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Alih-alih memperjuangkan kesejahteraan rakyat, kehadiran OPM justru membawa
ketertinggalan dan penderitaan yang berkepanjangan.
Aksi
kekerasan, pemerasan, hingga pengrusakan fasilitas publik yang dilakukan OPM
berulang kali telah mengganggu aktivitas masyarakat. Anak-anak sulit bersekolah
karena takut ancaman, para petani tidak leluasa bekerja di kebun, dan
pembangunan infrastruktur sering terhambat akibat teror.
Tokoh
adat Kabupaten Puncak, Daubenus Murib, menegaskan bahwa OPM hanya membuat
rakyat Papua hidup dalam ketakutan. “Selama OPM masih ada, masyarakat tidak
akan pernah merasa aman. Mereka selalu membawa senjata, menakut-nakuti warga,
dan merusak fasilitas. Itu membuat Papua semakin tertinggal,” ungkapnya.
Menurutnya,
masyarakat sebenarnya menginginkan kemajuan seperti daerah lain di Indonesia,
namun teror OPM membuat pembangunan berjalan lambat. “Sekolah dibakar, guru
diusir, tenaga kesehatan diteror. Ini bukti OPM tidak pernah memikirkan masa
depan Papua,” tambah Daubenus, Sabtu (23/8/2025).
Sejumlah
proyek strategis yang direncanakan pemerintah, seperti pembangunan jalan Trans
Papua dan fasilitas kesehatan, kerap terganggu karena serangan OPM. Akibatnya,
akses transportasi dan pelayanan publik menjadi sulit dijangkau warga di
pedalaman.
Tokoh
masyarakat di Kabupaten Lanny Jaya, Yohanis Tabuni, menyebut OPM telah menjadi
penghalang utama. “Kalau proyek infrastruktur terhenti, siapa yang rugi? Ya
masyarakat sendiri. Rakyat yang seharusnya menikmati jalan dan fasilitas malah
semakin menderita,” ujarnya.
Dampak
kehadiran OPM juga dirasakan anak-anak Papua. Banyak sekolah terpaksa ditutup
karena ancaman serangan. Bahkan, beberapa kali tenaga pendidik menjadi sasaran
kekerasan. Kondisi ini membuat generasi muda Papua terancam kehilangan
kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak.
“Pendidikan
itu kunci kemajuan. Kalau anak-anak tidak bisa sekolah, Papua akan tetap
tertinggal. OPM harus berhenti menghalangi masa depan generasi Papua,” tegas
Pendeta Markus Wanimbo, tokoh agama di Jayawijaya.
Kehadiran
OPM di Papua telah terbukti membawa dampak buruk pembangunan terhambat, rasa
aman hilang, dan masyarakat semakin menderita. Bukannya memperjuangkan rakyat,
OPM justru menjerumuskan Papua dalam lingkaran kekerasan dan ketertinggalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar