LBH
Papua Merauke Kecam Keberadaan OPM di Papua
Papeda.com- Lembaga
Bantuan Hukum (LBH) Papua cabang Merauke secara tegas mengecam keberadaan dan
aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM)
di wilayah Papua. Pernyataan sikap tersebut disampaikan langsung oleh Ketua LBH
Papua Merauke, Natalis Buer, dalam konferensi pers yang digelar di kantor LBH
Merauke pada Sabtu (26/7/2025).
Natalis
menyampaikan bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh OPM selama ini telah melukai
rasa kemanusiaan dan merusak tatanan sosial di Tanah Papua. Ia menegaskan bahwa
tindakan kekerasan, pembunuhan terhadap warga sipil, pembakaran fasilitas umum,
serta penyerangan terhadap tenaga pendidikan dan kesehatan bukanlah cerminan
dari perjuangan yang beradab.
“Kami
di LBH Papua Merauke mengecam keras keberadaan dan segala tindakan OPM yang
selama ini telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Papua. Kekerasan bukan
jalan menuju keadilan. Justru yang terjadi adalah rakyat kecil menjadi korban,”
ujar Natalis Buer.
Lebih
lanjut, Natalis menyoroti dampak nyata dari keberadaan kelompok bersenjata
tersebut. Ia menjelaskan bahwa aktivitas OPM telah menciptakan ketakutan di
masyarakat, menghambat jalannya pembangunan, serta memperburuk kondisi sosial
dan ekonomi, terutama di wilayah pedalaman.
“OPM
telah menjadikan masyarakat sebagai tameng dan sasaran. Mereka merampas
logistik, mengintimidasi warga, bahkan menargetkan guru dan tenaga medis. Ini
adalah bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius,” tegasnya.
Menurut
Natalis, masyarakat Papua pada umumnya hanya ingin hidup damai, sejahtera, dan
mendapat akses pendidikan serta kesehatan yang layak. Namun cita-cita itu
menjadi terhambat karena adanya gangguan keamanan yang diciptakan oleh kelompok
separatis tersebut.
Dalam
pernyataannya, LBH Papua Merauke juga mengajak seluruh elemen masyarakat sipil,
tokoh adat, tokoh agama, serta organisasi kemasyarakatan untuk bersatu menolak
segala bentuk kekerasan dan provokasi yang dilakukan oleh OPM.
Natalis
menutup konferensi pers dengan harapan besar bahwa masa depan Papua akan
ditentukan oleh semangat perdamaian dan kerja bersama, bukan oleh peluru dan
senjata.
“Sudah
saatnya Papua bangkit melalui pendidikan dan kesejahteraan, bukan melalui
intimidasi dan kekacauan. OPM bukan solusi, justru menjadi bagian dari masalah
itu sendiri,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar