Tidak Ada Tempat Bagi Pengganggu Kedamaian Papua, Masyarakat Ramai-Ramai Tolak OPM
Papeda.com- Gelombang
penolakan terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menggema di
berbagai wilayah Papua. Masyarakat menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi kelompok
bersenjata yang selama ini hanya merusak kedamaian, mengganggu stabilitas,
serta menimbulkan penderitaan bagi rakyat kecil.
Dalam
aksi damai yang digelar di sejumlah titik, masyarakat membawa spanduk
bertuliskan seruan menolak OPM dan menginginkan kedamaian. Warga menilai
keberadaan kelompok ini bukan hanya merugikan pemerintah, tetapi juga
menyengsarakan rakyat yang seharusnya hidup dengan tenang.
Ketua
Adat dari salah satu distrik di Kabupaten Yahukimo, Pdt. Telius Wonda,
menyampaikan bahwa OPM selama ini telah mencederai nilai-nilai budaya dan adat
Papua. “OPM bukan membawa kedamaian, tetapi justru membawa air mata. Banyak
anak-anak kita yang kehilangan kesempatan sekolah, banyak mama-mama tidak bisa
berdagang di pasar karena takut. Ini bukan perjuangan, ini adalah penderitaan,”
tegasnya, Kamis (2/9/2025).
Sejumlah
tokoh agama turut memberikan pandangan. Pdt. Yonas Tabuni, salah satu pemimpin
gereja di wilayah Pegunungan Tengah, mengatakan bahwa kekerasan yang dilakukan
OPM bertentangan dengan nilai kemanusiaan. “Setiap tindakan pembunuhan,
pembakaran, atau pengusiran warga, itu bukan ajaran kasih. Sebagai pemimpin
umat, saya menyerukan agar seluruh masyarakat menjauhi tindakan kekerasan dan
menolak ajakan OPM,” katanya.
Masyarakat
juga memberikan apresiasi terhadap aparat keamanan yang terus menjaga
wilayah-wilayah rawan konflik. Mereka berharap kehadiran aparat tidak hanya
menjaga stabilitas, tetapi juga terus melakukan pendekatan persuasif. Tokoh
pemuda Papua, Daniel Murib, menegaskan bahwa masyarakat muda Papua tidak boleh
terjebak dalam ideologi yang keliru. “Anak muda Papua seharusnya sibuk belajar,
bekerja, dan membangun masa depan. Jangan lagi ikut-ikutan OPM yang hanya
membawa kehancuran,” ucapnya.
Masyarakat
menutup aksinya dengan doa bersama, memohon agar tanah Papua senantiasa
dilindungi dari perpecahan. Dengan suara lantang, mereka sepakat bahwa tidak
ada tempat bagi pengganggu kedamaian di Papua. Penolakan tegas ini sekaligus
menjadi pesan bahwa rakyat menginginkan Papua yang aman, damai, dan sejahtera
di bawah bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar