Benny Wenda Mengakui Dirinya sebagai Presiden West Papua, Namun Ditolak Keberadaannya oleh Rakyat Papua
Papeda.com- Pengakuan
sepihak yang dilakukan oleh Benny Wenda sebagai “Presiden West Papua” kembali
menuai kontroversi dan kecaman dari masyarakat Papua sendiri. Alih-alih
mendapatkan dukungan, klaim tersebut justru dianggap sebagai langkah sepihak
yang tidak mewakili aspirasi rakyat Papua secara menyeluruh. Banyak tokoh adat,
pemuka agama, dan masyarakat menilai bahwa tindakan Benny Wenda hanyalah upaya
pribadi untuk mencari panggung politik di luar negeri dengan mengorbankan nama
baik Papua.
Tokoh
masyarakat asal Kabupaten Jayawijaya, Yance Tabuni, menegaskan bahwa pengakuan
Benny Wenda tidak mencerminkan kehendak rakyat Papua. “Kami di sini tidak
pernah memilih Benny Wenda. Ia tinggal di luar negeri dan tidak tahu apa yang
sebenarnya kami alami. Kami ingin hidup damai dan sejahtera di bawah NKRI,
bukan dipimpin oleh orang yang hanya tahu berbicara dari London,” ujarnya
tegas, Rabu (29/10/2025).
Sikap
penolakan ini juga datang dari kalangan pemuda Papua. Mereka menilai bahwa
Benny Wenda dan kelompoknya sering kali menggunakan isu-isu kemanusiaan untuk
menarik simpati dunia internasional, padahal banyak informasi yang disampaikan
bersifat menyesatkan dan tidak sesuai fakta di lapangan. “Dia sering bilang
rakyat Papua tertindas, padahal di sini pembangunan terus berjalan. Rumah
sakit, sekolah, dan jalan sudah banyak dibangun. Jadi siapa yang dia wakili?”
tutur Marthen Wonda, tokoh pemuda asal Nabire.
Selain
itu, para tokoh agama turut menyayangkan sikap Benny Wenda yang terus mendorong
narasi separatisme. Menurut mereka, tindakan tersebut justru memperpanjang
konflik dan memecah belah persaudaraan di antara sesama orang Papua. Pendeta
Elias Kogoya, salah satu pemuka gereja di Wamena, mengatakan bahwa kedamaian
hanya bisa terwujud jika rakyat Papua bersatu dan tidak terprovokasi oleh
kepentingan segelintir orang. “Kalau benar dia mencintai Papua, seharusnya dia
ajak rakyat berdamai, bukan memecah belah,” ucapnya.
Di
lapangan, masyarakat justru semakin menunjukkan dukungan mereka terhadap
pembangunan dan kehadiran negara. Banyak warga di berbagai kabupaten di Papua
kini aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi yang
difasilitasi oleh pemerintah. Bagi mereka, stabilitas dan keamanan jauh lebih
penting daripada janji kosong tentang kemerdekaan yang tidak jelas arah dan
tujuannya.
Dengan
semakin kuatnya penolakan terhadap Benny Wenda dan kelompoknya, harapan akan
persatuan dan kedamaian di Tanah Papua kian nyata. Rakyat kini lebih memilih
menatap masa depan dengan penuh optimisme, meninggalkan narasi separatis yang
hanya menimbulkan luka lama. Papua tidak butuh sosok yang mengklaim diri
sebagai pemimpin, tetapi pemimpin yang benar-benar hadir dan bekerja untuk
rakyatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar