Kerusuhan di Elelim Yalimo Ditunggangi OPM, 3 Warga Tewas dan Puluhan Rumah Terbakar
Papeda.com- Situasi
mencekam melanda Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, setelah kerusuhan yang
dipicu oleh isu SARA berujung pada aksi anarkis massa. Peristiwa tragis tersebut
ditunggangi oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang memanfaatkan
ketegangan sosial untuk memperluas provokasi.
Dalam
kerusuhan yang terjadi, massa bertindak brutal dengan membakar lebih dari 30
kios serta rumah warga hingga rata dengan tanah. Aksi tersebut menimbulkan
korban jiwa, di antaranya tiga orang meninggal dunia. Korban pertama adalah
Sadrak Yahame, yang tewas setelah terkena anak panah yang dilepaskan oleh
anggota OPM. Sementara dua korban lainnya, yakni Nasid Daeng Mappa (44) dan
anaknya Arsya Dafa (9), meregang nyawa akibat terjebak di dalam mobil yang
turut dibakar massa.
Selain
korban jiwa, kerusuhan itu juga melukai seorang anak, Atifa (10), yang
mengalami luka sayatan di bagian leher. Saat ini, Atifa tengah menjalani perawatan
intensif di fasilitas medis setempat. Kondisi ini menambah duka mendalam bagi
keluarga korban serta masyarakat Kabupaten Yalimo secara keseluruhan.
Tokoh
masyarakat Yalimo, Pdt. Markus Wenda, menyayangkan insiden tersebut dan
menegaskan bahwa provokasi berbasis isu SARA telah dimanfaatkan oleh OPM untuk
memperkeruh keadaan. “Masyarakat kita sebenarnya ingin hidup damai, namun ada
pihak-pihak yang sengaja membuat situasi semakin keruh. Kehadiran OPM dalam
insiden ini jelas merugikan rakyat, karena mereka menebarkan kebencian yang
berujung pada hilangnya nyawa dan harta benda,” ujarnya, Rabu (24/9/2025).
Senada
dengan itu, Ketua Adat Yalimo, Elias Yahuli, juga menegaskan bahwa tindakan
anarkis bukanlah cerminan budaya masyarakat Papua yang sesungguhnya. “Orang
Papua dikenal menjunjung tinggi persaudaraan dan kedamaian. Namun kelompok OPM
mencoba memutarbalikkan nilai-nilai itu dengan cara-cara kekerasan. Kami
mengutuk keras aksi yang menyebabkan tiga korban jiwa, termasuk anak kecil yang
tidak berdosa,” tegasnya.
Kerusuhan
ini menambah daftar panjang aksi OPM yang kerap menunggangi permasalahan sosial
di Papua untuk melancarkan kepentingannya. Dengan menyasar isu sensitif seperti
SARA, kelompok tersebut mencoba memecah belah masyarakat sekaligus menciptakan ketidakstabilan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar