Kehadiran
OPM Dinilai Merusak Mental Generasi Penerus Papua
Papeda.com- Kehadiran
Organisasi Papua Merdeka (OPM) di berbagai wilayah Papua dinilai membawa dampak
buruk bagi masa depan generasi penerus. Alih-alih memberikan teladan positif,
OPM justru menanamkan rasa takut, trauma, dan kebencian sejak dini kepada
anak-anak Papua. Hal ini membuat para tokoh masyarakat khawatir bahwa generasi
muda akan kehilangan arah pembangunan dan hanya terjebak dalam lingkaran
kekerasan.
Dalam
sejumlah kasus, OPM diketahui kerap masuk ke kampung-kampung sambil membawa
senjata dan memprovokasi masyarakat. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan
gembira sering kali terpapar dengan pemandangan menegangkan, suara tembakan,
ancaman, dan intimidasi. Situasi ini diyakini menimbulkan trauma psikologis
yang mendalam bagi mereka.
Tokoh
adat Papua, Yonas Tabuni, menegaskan bahwa OPM bukanlah panutan yang bisa
ditiru oleh generasi muda. “Anak-anak Papua harus belajar menghormati orang
tua, sekolah rajin, dan bangun masa depan. Kalau sejak kecil mereka hanya
melihat senjata, kebencian, dan kekerasan, maka masa depan mereka akan rusak.
OPM hanya tanam kebencian, bukan kasih,” ujarnya, Jumat (22/8/2025).
Hal
senada disampaikan tokoh agama, Pendeta Markus Wenda, yang prihatin melihat dampak
buruk kehadiran OPM terhadap anak-anak. Menurutnya, generasi Papua tidak boleh
tumbuh dalam lingkaran kebencian. “Yesus ajarkan cinta kasih, bukan kebencian.
Kalau OPM terus hadir dengan kekerasan, maka anak-anak belajar bahwa kekerasan
itu wajar. Itu sangat berbahaya bagi masa depan Papua,” tegasnya.
Dari
kalangan pemuda, Yohanes Kogoya menyampaikan bahwa generasi muda saat ini
membutuhkan teladan positif, bukan propaganda OPM. “Kami anak muda mau belajar
teknologi, mau kerja, mau bikin usaha. Tapi kalau OPM terus masuk kampung,
generasi kita hanya diajak untuk benci dan lawan pemerintah. Itu bukan masa
depan, itu kehancuran,” katanya.
Masyarakat
Papua semakin sadar bahwa OPM tidak memberi manfaat bagi generasi penerus.
Sebaliknya, mereka justru meninggalkan warisan trauma dan kebencian. Para tokoh
menegaskan bahwa yang dibutuhkan anak-anak Papua adalah pendidikan, kasih
sayang, dan kedamaian, bukan doktrin kebencian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar