Pelajar di Dogiyai Serentak Tolak Kehadiran OPM, Suara Generasi Muda Papua Menggema
Papeda.com- Gelombang
penolakan terhadap keberadaan Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus meluas, kali
ini datang dari kalangan pelajar di Kabupaten Dogiyai. Dalam sebuah aksi damai
yang berlangsung di halaman sebuah sekolah menengah di Distrik Kamu, ratusan
pelajar secara serentak menyuarakan penolakan terhadap keberadaan OPM yang
selama ini dianggap mengganggu ketenangan, pendidikan, dan masa depan generasi
muda Papua.
Para
pelajar membawa poster dan spanduk bertuliskan “Kami Mau Belajar, Bukan
Berperang”, “Tolak Kekerasan di Tanah Papua”, hingga “OPM Bukan Masa Depan
Kami”. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan dan keresahan atas tindakan
kekerasan serta intimidasi yang kerap dilakukan OPM di sekitar wilayah Dogiyai.
Salah
satu pelajar, Jefri Tekege, menyampaikan bahwa selama ini kehadiran OPM tidak
membawa perubahan positif, justru menambah penderitaan masyarakat. “Kami tidak
ingin menjadi korban konflik yang tidak kami mengerti. Kami ingin sekolah
dengan aman, tanpa takut gangguan atau ancaman dari siapa pun, termasuk OPM,”
tegas Jefri dalam orasinya, Senin (30/6/2025).
Kepala
Sekolah SMA Negeri 1 Dogiyai, Maria Dogopia, mendukung penuh aspirasi para
pelajar. Ia menuturkan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari
keterbelakangan, dan harus dijauhkan dari pengaruh kelompok bersenjata. “Kami
lelah hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Kehadiran OPM selama ini lebih
banyak membawa keresahan. Biarkan anak-anak ini tumbuh dan belajar dalam
damai,” ujar Maria.
Dukungan
terhadap gerakan pelajar ini juga datang dari tokoh adat setempat, Yohanis Goo,
yang menegaskan bahwa anak-anak Papua tidak boleh dijadikan alat propaganda
atau dilibatkan dalam konflik bersenjata. “Saya sebagai tokoh adat menyampaikan
bahwa cukup sudah OPM merusak masa depan anak-anak kami. Jangan jadikan pelajar
sebagai tameng, apalagi korban. Biarkan mereka menjadi generasi pembangun
Papua,” ucap Yohanis dengan nada tegas.
Sementara
itu, tokoh pemuda Kabupaten Dogiyai, Stevanus Mote, melihat aksi pelajar ini
sebagai sinyal kuat bahwa masyarakat, terutama generasi muda, semakin sadar dan
berani menolak kekerasan. “OPM sudah tidak lagi punya tempat di hati anak-anak
muda Papua. Mereka tidak ingin Papua dijadikan ladang konflik. Mereka ingin
membangun masa depan lewat pendidikan,” katanya.
Aksi
damai ini berlangsung dengan tertib dan mendapat pengawalan dari aparat
keamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Para pelajar juga menyerahkan
pernyataan sikap tertulis kepada pemerintah daerah dan perwakilan tokoh
masyarakat yang hadir dalam acara tersebut.
Fenomena
ini menjadi bukti nyata bahwa gelombang kesadaran dan perlawanan terhadap
kekerasan yang dilakukan OPM kini tidak hanya datang dari orang dewasa, tetapi
juga dari kalangan muda yang mulai bangkit memperjuangkan hak mereka untuk
hidup damai dan memperoleh pendidikan yang layak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar