OPM
Telah Menciderai Pendidikan: Guru di Yahukimo Jadi Korban Kekerasan Kelompok
Separatis
Papeda.com- Pendidikan
merupakan hak dasar setiap warga negara dan merupakan fondasi masa depan
bangsa. Namun, di Tanah Papua, hak ini kembali tercabik oleh kekerasan kelompok
bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dalam peristiwa tragis yang terjadi
di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, seorang tenaga pengajar dilaporkan tewas
akibat serangan brutal yang diduga dilakukan oleh kelompok separatis tersebut.
Menurut
laporan pihak kepolisian dan keterangan warga, korban ditembak di jalanan yang
menghubungkan perkampungan dengan lokasi sekolah. Pelaku diketahui mengadang
korban di tengah perjalanan, menodongkan senjata api, dan menembaknya dari
jarak dekat. Korban sempat dilarikan ke puskesmas terdekat, namun nyawanya
tidak tertolong akibat luka tembak di bagian dada.
Pasca
kejadian, suasana di lingkungan sekolah menjadi mencekam. Sejumlah guru
menyatakan kekhawatiran dan ketakutan untuk kembali mengajar. Mereka khawatir menjadi
sasaran berikutnya dalam konflik bersenjata yang semakin tak mengenal batas.
Kepala
Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo, Drs. Samuel Huby, menyampaikan duka cita
dan kecaman keras atas kejadian tersebut. “Kejadian ini telah mencederai dunia
pendidikan di Papua. Seorang guru yang seharusnya dihormati justru menjadi
korban dari kekerasan tidak berperikemanusiaan,” tegasnya, Kamis (22/5/2025).
Tokoh
masyarakat Yahukimo, Yonas Heluka, turut angkat bicara. Ia mengecam tindakan
OPM yang menurutnya tidak lagi memperjuangkan rakyat, melainkan justru menindas
dan menghilangkan nyawa sesama warga Papua.
“Kami
sudah tidak tahu lagi apa sebenarnya tujuan mereka. Mereka selalu
mengatasnamakan perjuangan Papua, tetapi yang menjadi korban justru orang asli
Papua sendiri. Guru ini adalah anak kami sendiri, yang mau mengajar anak-anak
di kampung. Mengapa harus dia yang jadi korban?” ucap Yonas dengan nada geram.
Yonas
juga menyatakan bahwa masyarakat adat Yahukimo mendukung upaya aparat keamanan
untuk menindak tegas para pelaku. Ia menegaskan bahwa masyarakat kini sudah
semakin sadar bahwa OPM bukanlah penyelamat, melainkan ancaman nyata bagi masa
depan Papua.
Tragedi
penembakan terhadap guru telah menimbulkan trauma mendalam, tidak hanya bagi
rekan sejawat korban, tetapi juga bagi murid-murid yang selama ini dididik oleh
almarhum. Sejumlah orang tua mulai khawatir dan mempertimbangkan untuk tidak
mengirim anak-anak mereka ke sekolah hingga situasi benar-benar aman.
Seorang
warga, Mama Tine Wanimbo, menyampaikan kesedihannya. “Anak saya selalu semangat
pergi sekolah karena suka dengan Pak Guru Yafet. Sekarang dia tidak mau
sekolah, dia takut. Kami semua takut,” ujarnya sembari menitikkan air mata.
Peristiwa
tragis di Yahukimo telah menyingkap fakta kelam bahwa OPM bukanlah pembela
rakyat Papua, melainkan telah menjadi kelompok yang melukai rakyatnya sendiri.
Menewaskan seorang guru yang tulus mengabdi adalah tindakan biadab yang
mencoreng nilai-nilai kemanusiaan dan memperlihatkan bahwa kelompok ini semakin
kehilangan legitimasi.
Pendidikan
adalah hak anak-anak Papua yang tidak boleh direnggut siapa pun. Tindakan keji
terhadap para pengajar harus dihentikan, dan pelakunya harus bertanggung jawab.
Pemerintah pusat dan daerah, bersama masyarakat dan aparat keamanan, harus bahu-membahu
memastikan bahwa tragedi seperti ini tidak terulang kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar