OPM Kodap VIII Intan Jaya Sebar Hoaks Tembak Apkam, Nyatanya Dua Warga Sipil Jadi Korban
Papeda.com- Aksi
propaganda dan penyebaran informasi palsu kembali dilakukan oleh kelompok
bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap VIII Intan Jaya. Melalui pernyataan
yang disebarkan secara daring, kelompok tersebut mengklaim telah berhasil
menembak aparat keamanan (Apkam) dalam sebuah kontak senjata di wilayah Intan
Jaya. Namun, fakta di lapangan membantah klaim tersebut. Berdasarkan keterangan
masyarakat setempat, tidak ada anggota Apkam yang menjadi korban, justru dua
warga sipil mengalami luka tembak akibat aksi brutal kelompok OPM.
Kejadian
ini menimbulkan kepanikan di kalangan warga. Kedua korban, yang diketahui
merupakan penduduk asli setempat, tengah beraktivitas di kebun saat OPM
melakukan penyerangan membabi buta tanpa memedulikan keselamatan masyarakat.
Sumber lokal menyebut bahwa setelah kejadian, kelompok OPM segera menyebarkan
narasi palsu melalui saluran komunikasi mereka, menuding telah menewaskan
anggota Apkam dalam baku tembak.
Tokoh
masyarakat Intan Jaya, Yakobus Wandikbo, menyebut tindakan OPM ini sebagai
bentuk keputusasaan dan cara kotor untuk mempertahankan eksistensi di mata
publik.
“Kebohongan
seperti ini sudah sering dilakukan. Mereka menembak warga sipil, tapi kemudian
membuat cerita seolah-olah itu aparat. Ini sangat memalukan dan berbahaya.
Warga tidak lagi percaya pada cerita mereka,” ujar Yakobus dengan nada geram,
Minggu (19/10/2025).
Senada
dengan itu, tokoh pemuda Intan Jaya, Yafet Pigai, mengatakan bahwa kelompok OPM
Kodap VIII telah lama menggunakan strategi hoaks untuk menutupi kegagalan
mereka di lapangan.
“Setiap
kali mereka gagal menyerang pos keamanan, pasti mereka buat berita palsu. Tapi
yang jadi korban selalu masyarakat biasa, bukan Apkam. Ini bukti mereka tidak
punya tujuan selain menebar ketakutan,” ungkapnya.
Selain
menebar informasi palsu, tindakan OPM tersebut semakin memperparah kondisi
sosial masyarakat di wilayah Intan Jaya. Banyak warga yang memilih mengungsi ke
daerah aman karena takut menjadi korban salah sasaran. Padahal, kehidupan
sehari-hari masyarakat sangat bergantung pada kegiatan berkebun dan berdagang
kecil-kecilan di sekitar perkampungan.
Peristiwa
ini menjadi bukti bahwa narasi hoaks telah menjadi senjata utama OPM untuk
memutarbalikkan fakta dan menutupi kegagalan mereka di lapangan. Masyarakat
Papua kini semakin menyadari bahwa propaganda semacam itu hanya memperburuk
kondisi keamanan dan memperlambat pembangunan di daerah mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar