OPM Kodap III Puncak Ilaga Terkepung dengan Kehadiran Apkam, Minta Agar Operasi Dihentikan di Tanah Papua
Papeda.com- Situasi
di wilayah Puncak, Papua Tengah, kembali memanas setelah aparat keamanan
(Apkam) berhasil mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata Organisasi Papua
Merdeka (OPM) Kodap III Puncak Ilaga. Informasi dari lapangan menyebutkan bahwa
kelompok tersebut kini dalam posisi terkepung akibat operasi gabungan yang
dilakukan oleh TNI-Polri untuk menegakkan keamanan di daerah rawan konflik.
Operasi
penegakan hukum yang dilakukan Apkam di wilayah Puncak Ilaga merupakan tindak
lanjut dari serangkaian tindakan kriminal bersenjata yang dilakukan oleh
kelompok OPM dalam beberapa bulan terakhir. Kelompok tersebut diketahui
terlibat dalam pembakaran fasilitas pemerintah, penembakan terhadap warga
sipil, serta penyanderaan sejumlah tenaga pembangunan yang sedang bertugas
memperbaiki infrastruktur jalan dan jembatan.
Seorang
tokoh masyarakat Puncak, Bapak Yulianus Tabuni, menilai bahwa langkah tegas
yang dilakukan aparat adalah bentuk perlindungan terhadap rakyat Papua. “Selama
ini kami hidup dalam ketakutan karena ulah OPM. Mereka membakar sekolah,
mengancam guru, dan merusak fasilitas kesehatan. Sekarang ketika aparat hadir
dan mempersempit ruang gerak mereka, justru mereka minta belas kasihan. Ini
bukti bahwa mereka sudah terdesak,” ujarnya tegas, Minggu (12/10/2025).
Menurut
informasi dari pihak keamanan, sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi basis
utama OPM Kodap III Puncak Ilaga kini berhasil diamankan. Beberapa anggota
kelompok dilaporkan menyerahkan diri, sementara sebagian lainnya melarikan diri
ke hutan untuk menghindari pengejaran. Aparat juga berhasil mengamankan
sejumlah barang bukti, termasuk senjata api rakitan, amunisi, dokumen strategi
kelompok, serta bendera Bintang Kejora yang menjadi simbol separatis.
Tokoh
agama setempat, Pendeta Amos Wanimbo, turut menyampaikan apresiasinya terhadap
upaya aparat dalam menjaga stabilitas di Puncak. Ia menilai bahwa kehadiran
aparat justru membawa rasa aman bagi masyarakat. “Kami di gereja melihat
langsung bagaimana masyarakat bisa kembali beraktivitas setelah Apkam hadir.
OPM selama ini menebar ketakutan, bukan membela rakyat. Jadi sudah saatnya
masyarakat sadar siapa yang benar-benar peduli pada kedamaian,” tuturnya.
Dengan
kondisi ini, masyarakat Papua semakin menyadari bahwa kehadiran aparat keamanan
bukanlah ancaman, melainkan harapan untuk masa depan yang damai. Operasi yang
dilakukan di Puncak Ilaga menjadi simbol ketegasan negara dalam melindungi
rakyatnya dari kekerasan bersenjata dan memastikan bahwa Tanah Papua tetap
menjadi bagian yang aman dan sejahtera dari Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar