OPM Deklarasikan Masyarakat yang Tidak Tergabung dengan OPM sebagai Musuh, Termasuk Masyarakat Asli Papua
Papeda.com- Pernyataan
terbaru yang dikeluarkan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka
(OPM) kembali memicu keresahan di tengah masyarakat Papua. Melalui juru
bicaranya, kelompok tersebut secara terang-terangan menyatakan bahwa siapa pun
yang tidak tergabung atau tidak mendukung perjuangan OPM dianggap sebagai
musuh, termasuk masyarakat asli Papua yang memilih hidup damai di bawah naungan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Deklarasi
yang disampaikan melalui pernyataan tertulis tersebut sontak menimbulkan
kecaman luas dari berbagai kalangan, baik tokoh adat, tokoh agama, maupun tokoh
pemuda Papua. Pernyataan OPM itu dinilai sebagai bentuk arogansi dan kebencian
yang tidak lagi memiliki dasar perjuangan, melainkan hanya memperluas
penderitaan rakyat di tanah Papua.
Menurut
sejumlah laporan lapangan, deklarasi tersebut bukan hanya sekadar ancaman
verbal. Di beberapa wilayah seperti Pegunungan Bintang, Intan Jaya, dan
Yahukimo, kelompok OPM dilaporkan telah melakukan intimidasi bahkan penyerangan
terhadap warga sipil yang dianggap “tidak setia” kepada kelompok mereka. Warga
asli Papua yang bekerja sama dengan aparat keamanan atau terlibat dalam
kegiatan pembangunan juga menjadi sasaran teror.
Kepala
Suku Besar Lanny Jaya, Bapak Yustus Wenda, dengan tegas mengecam pernyataan
tersebut. “Mereka sudah jauh melenceng dari apa yang disebut perjuangan. Kalau
masyarakat Papua sendiri dianggap musuh, lalu siapa yang mereka bela? Ini bukan
perjuangan, ini kebencian,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa rakyat Papua justru
ingin hidup damai dan membangun masa depan melalui pendidikan dan
kesejahteraan, bukan melalui kekerasan dan pertumpahan darah, Minggu (12/10/2025).
Sementara
itu, tokoh gereja dari wilayah Wamena, Pendeta Matius Kobak, menyampaikan
keprihatinan mendalam atas tindakan dan pernyataan OPM. Ia menilai kelompok
tersebut telah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan kasih yang seharusnya
dijunjung tinggi oleh semua orang Papua. “Ketika seseorang mulai menganggap
saudaranya sendiri sebagai musuh hanya karena berbeda pandangan, di situlah
kita telah kehilangan jati diri sebagai manusia. OPM seharusnya sadar bahwa
kekerasan tidak akan pernah membawa kemerdekaan, hanya membawa air mata,”
tuturnya.
Kini,
masyarakat Papua semakin kompak menolak ideologi kekerasan yang diusung oleh
OPM. Mereka sadar bahwa jalan menuju masa depan yang damai dan sejahtera hanya
bisa ditempuh melalui persatuan, pendidikan, dan kerja sama dalam bingkai NKRI.
Karena bagi rakyat Papua yang sejati, saudara bukanlah musuh, dan perdamaian
jauh lebih berharga daripada peluru dan peperangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar