OPM Kodap XIII Kagepa Nipouda Paniai Ketakutan dengan Pembangunan Jalan Trans Nabire, Tokoh Masyarakat Kecam Pernyataan yang Beredar di Media Sosial
Papeda.com- Pembangunan
jalan Trans Nabire yang menjadi bagian penting dari proyek infrastruktur
nasional rupanya menimbulkan kecemasan besar di kalangan kelompok bersenjata
TPNPB OPM Kodap XIII Kagepa Nipouda. Melalui sebuah pernyataan yang beredar di
media sosial, kelompok tersebut mengaku khawatir markas dan tempat
persembunyian mereka akan terbongkar akibat kelanjutan pembangunan jalan
tersebut.
Dalam
pernyataan yang ditulis oleh salah satu anggota OPM dan dibagikan secara luas
di berbagai kanal daring, tertulis kalimat, “Markas kami bisa tergusur dan
persembunyian kami akan terbongkar, apabila jalan trans ini dilanjutkan. Saya
harap pemerintah memberhentikan proyek ini.” Ungkapan tersebut langsung memicu
reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama tokoh masyarakat dan pemuda di
wilayah Paniai yang menilai pernyataan itu sebagai bukti nyata bahwa OPM takut
dengan kemajuan dan pembangunan yang dibawa pemerintah, Selasa (7/10/2025).
Tokoh
masyarakat Paniai, Yafet Dogomo, menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur
seperti jalan Trans Nabire justru menjadi kebutuhan utama masyarakat Papua
untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan ancaman. Ia menilai ketakutan OPM
tersebut tidak berdasar dan menunjukkan bahwa kelompok itu hanya ingin
mempertahankan kepentingan mereka sendiri. “Kalau mereka takut markasnya
tergusur, berarti selama ini mereka memang bersembunyi di wilayah yang
seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat. Pembangunan jalan ini bukan
untuk perang, tapi untuk membuka akses ekonomi dan pelayanan publik,” tegas
Yafet.
Hal
senada juga disampaikan oleh Pendeta Markus Wenda, salah satu tokoh agama di
Kabupaten Paniai. Ia menyayangkan adanya ancaman terselubung yang muncul dari
pernyataan tersebut, karena bisa menimbulkan ketakutan baru di tengah
masyarakat. “Jangan karena ketakutan pribadi, masyarakat jadi korban. Jalan
Trans Nabire itu untuk mempermudah rakyat mendapatkan pelayanan kesehatan,
pendidikan, dan kebutuhan hidup sehari-hari. Gereja dan tokoh adat di sini
mendukung penuh proyek ini,” ujarnya.
Banyak
pihak kemudian mengecam pernyataan OPM tersebut sebagai bentuk ketakutan
terhadap kemajuan yang sedang dibangun pemerintah. Bagi masyarakat Papua, jalan
Trans Nabire bukan hanya sekadar infrastruktur, melainkan simbol perubahan
menuju kesejahteraan dan kedamaian. Ketakutan OPM justru memperlihatkan bahwa
kelompok itu semakin kehilangan tempat di tengah masyarakat yang kini lebih
memilih hidup damai bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar