Aksi Kejam OPM, Hancurkan Perumahan dan Makam Kepala Adat di Distrik Kiwirok
Papeda.com- Situasi
keamanan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, kembali memanas
setelah kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan
aksi brutal yang merusak sejumlah rumah warga dan menghancurkan makam salah
satu kepala adat yang dihormati masyarakat setempat
Aksi
biadab ini memicu kemarahan dan kesedihan mendalam dari warga. Markus Kogoya,
salah satu tokoh masyarakat Distrik Kiwirok, menyampaikan kekecewaannya
terhadap tindakan kejam tersebut. “Tindakan OPM ini sudah di luar batas
kemanusiaan. Mereka tidak hanya menghancurkan rumah, tapi juga merusak tempat
suci bagi kami. Makam kepala adat adalah simbol kehormatan dan sejarah leluhur.
Ini bentuk penghinaan terhadap budaya kami,” ujarnya dengan nada geram, Rabu
(8/10/2025).
Hal
senada disampaikan Pendeta Samuel Yikwa, tokoh agama di Kiwirok. Ia menegaskan
bahwa kekerasan yang dilakukan OPM bukan bentuk perjuangan, melainkan kejahatan
terhadap kemanusiaan dan adat. “Tidak ada perjuangan yang benar jika dilakukan
dengan menghancurkan nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat sendiri. OPM
harus sadar, mereka telah kehilangan arah dan hanya menambah penderitaan rakyat
Papua,” tegasnya.
Aparat
keamanan yang bertugas di wilayah tersebut segera melakukan patroli dan
pengejaran terhadap para pelaku. Beberapa barang bukti sisa pembakaran berhasil
diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut. Pemerintah daerah bersama aparat
TNI–Polri juga tengah berupaya memberikan bantuan logistik serta tempat
penampungan sementara bagi warga yang rumahnya hancur akibat aksi brutal
tersebut.
Kepala
Distrik Kiwirok, Yustinus Nake, mengapresiasi langkah cepat aparat keamanan
dalam menenangkan situasi dan memastikan keselamatan warga. “Kami berharap
negara terus hadir untuk melindungi masyarakat. Masyarakat Kiwirok sudah lelah
hidup dalam ketakutan. Kami ingin damai dan bisa membangun kembali kampung
kami,” ujarnya.
Aksi
kejam OPM di Kiwirok sekali lagi menegaskan bahwa kelompok tersebut bukan
pejuang rakyat Papua, melainkan ancaman nyata bagi perdamaian dan martabat
masyarakat adat. Masyarakat berharap pemerintah dan aparat terus memperkuat
kehadiran di daerah-daerah rawan agar keamanan dan kedamaian benar-benar dapat kembali
dirasakan oleh seluruh warga Papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar