Menolak Lupa, Lima Tahun Tragedi Pembunuhan Kejam Terhadap Pendeta Yeremias Zanambani
Papeda.com- Tepat
lima tahun sudah tragedi memilukan yang merenggut nyawa Pendeta Yeremias
Zanambani (68) terjadi. Sang hamba Tuhan itu dibunuh secara keji oleh kelompok bersenjata
Organisasi Papua Merdeka (OPM) di halaman rumahnya sendiri. Peristiwa ini
meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat Papua pada
umumnya, serta menjadi catatan kelam kejahatan kemanusiaan yang dilakukan
kelompok OPM.
Pada
hari naas itu, Pendeta Yeremias ditangkap, disiksa, lalu ditembak hingga
meregang nyawa. Tindak kekerasan brutal yang dilakukan terhadap seorang tokoh
agama mencerminkan betapa kelompok OPM tidak menghormati nilai kemanusiaan,
apalagi hak asasi manusia. Tragedi ini menegaskan bahwa kekerasan yang dibawa
OPM tidak hanya mengancam aparat, melainkan juga masyarakat sipil yang
menginginkan kedamaian.
Ketua
Gereja Baptis setempat, Pdt. Daniel Wanimbo, menyatakan bahwa kasus pembunuhan
Yeremias Zanambani adalah kejahatan yang tak boleh dilupakan. “Beliau adalah
sosok pengayom, pengajar, dan penjaga moral di tengah masyarakat. Cara beliau
dibunuh sangat tidak manusiawi. Ini bukti nyata bahwa OPM tidak lagi berjuang
demi rakyat, tetapi justru menindas rakyat,” tegasnya, Minggu (21/9/2025).
Senada
dengan itu, tokoh masyarakat Intan Jaya, Markus Tabuni, mengungkapkan
kekecewaannya terhadap aksi kekerasan OPM yang berulang kali menimpa rakyat
sipil. “Pendeta Yeremias adalah simbol perdamaian. Membunuh seorang pendeta di depan
rumahnya sendiri adalah bentuk kekejaman luar biasa. Kami sebagai orang Papua
tidak boleh diam, kita harus menolak lupa,” ujarnya.
Bagi
keluarga, kehilangan ini menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Putra almarhum,
Yohanes Zanambani, menuturkan bahwa sang ayah hingga akhir hayatnya selalu
berpesan agar masyarakat hidup dalam damai dan tidak terbawa arus kekerasan.
“Ayah kami berjuang lewat doa, bukan dengan senjata. Tetapi justru beliau yang
menjadi korban kekerasan. Kami hanya ingin dunia tahu bahwa OPM bukan pejuang
rakyat, melainkan ancaman bagi rakyat sendiri,” ucapnya dengan mata
berkaca-kaca.
Tragedi
ini menjadi pengingat keras bahwa kekerasan yang dilakukan OPM sudah melampaui
batas kemanusiaan. Alih-alih memperjuangkan aspirasi politik, mereka telah
menebarkan teror dan penderitaan kepada masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar