Pembakaran, Pengrusakan Fasilitas Pendidikan dan
Kesehatan Merupakan Pelanggaran HAM yang Sering Dilakukan oleh OPM
Papeda.com-
Tindakan kekerasan yang sering terjadi di Papua, terutama oleh kelompok
separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM), semakin memprihatinkan, terutama
dengan adanya pembakaran dan pengrusakan fasilitas pendidikan dan fasilitas
kesehatan. Tindakan ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga
mencederai hak-hak dasar warga masyarakat Papua, serta memperburuk situasi
kemanusiaan di wilayah yang telah lama dilanda konflik ini.
Dalam
beberapa bulan terakhir, sejumlah fasilitas penting di Papua, seperti sekolah
dan rumah sakit, telah menjadi sasaran pembakaran dan perusakan oleh kelompok
yang menamakan diri mereka pejuang kemerdekaan Papua. Pembakaran fasilitas
pendidikan dan kesehatan ini jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia
(HAM) yang berat, karena merampas hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan
dan hak masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang layak.
Tindakan
ini tidak hanya menambah deretan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, tetapi
juga merusak upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
daerah yang selama ini tertinggal. Sekolah-sekolah yang dibakar dan rumah sakit
yang dihancurkan merupakan sarana vital untuk mendukung pembangunan dan
memberikan akses dasar bagi masyarakat. Pembakaran dan perusakan ini semakin
memperburuk kesulitan yang sudah dihadapi oleh masyarakat di Papua.
Pembakaran
fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan di Papua oleh kelompok OPM telah
menjadi kejadian yang berulang. Tidak hanya sekali atau dua kali, insiden ini
terjadi di berbagai wilayah, khususnya di daerah yang terisolasi dan rentan.
Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat laporan mengenai pembakaran sekolah dan
puskesmas yang dilakukan oleh kelompok bersenjata yang diduga berasal dari OPM.
Dalam beberapa kasus, fasilitas tersebut bukan hanya dihancurkan, tetapi juga
dibakar habis sehingga tidak dapat digunakan lagi.
Salah
satu insiden yang mencuat adalah pembakaran Sekolah Dasar di Distrik Anggruk,
Kabupaten Yahukimo, yang terjadi pada 21 Maret 2025. Fasilitas yang sudah
mengalami kerusakan parah tersebut membuat proses belajar mengajar menjadi
terganggu. Guru-guru dan siswa yang sebelumnya dapat mengakses pendidikan
dengan lebih baik, kini harus kembali menghadapi keterbatasan fasilitas. Tidak
hanya itu, pembakaran Puskesmas yang terjadi di wilayah yang sama juga
mengakibatkan terganggunya layanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
“Serangan
terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan ini adalah pelanggaran HAM yang
tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apapun. Sekolah dan puskesmas adalah dua
fasilitas yang sangat penting untuk kehidupan masyarakat, khususnya di Papua
yang sudah sangat terbatas aksesnya. Pembakaran dan perusakan ini menambah
kesulitan yang harus dihadapi masyarakat Papua yang sudah hidup dalam
keterbatasan,” ujar Natalius Pigai, Menteri HAM, dalam konferensi pers terkait
isu HAM di Papua, Kamis (27/03/2025).
Menanggapi
kejadian-kejadian yang terus berulang ini, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM)
Republik Indonesia, Natalius Pigai, mengungkapkan keprihatinannya. Ia
menegaskan bahwa pembakaran dan perusakan fasilitas pendidikan dan kesehatan
adalah pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang harus dihentikan
segera.
“Pendidikan
dan kesehatan adalah hak dasar yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara,
tidak peduli apapun latar belakang permasalahannya. Pembakaran fasilitas ini
jelas merupakan bentuk kekerasan yang melanggar HAM dan harus dihentikan.
Pemerintah akan mengambil langkah-langkah tegas untuk memberikan perlindungan
terhadap warga dan fasilitas-fasilitas vital ini,” ujar Pigai.
Selain
itu, pemerintah juga bekerja sama dengan aparat keamanan untuk memperkuat
pengamanan terhadap fasilitas-fasilitas penting yang menjadi sasaran rentan.
Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa warga Papua, terutama anak-anak yang
bersekolah dan masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan, dapat terus
mengakses hak-hak mereka dengan aman.
Tokoh
masyarakat Papua, Sebastian Wanimbo, mengungkapkan rasa kesal dan kecewanya
terhadap aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh OPM. Menurutnya, kelompok yang
mengklaim diri sebagai pejuang kemerdekaan ini justru merugikan masyarakat
Papua itu sendiri, yang seharusnya mendapat pendidikan dan pelayanan kesehatan
yang memadai.
“Pembakaran
sekolah dan puskesmas adalah tindakan yang sangat merugikan masyarakat Papua.
Kami di sini, terutama anak-anak, membutuhkan pendidikan untuk masa depan
mereka. Begitu juga dengan layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh warga,
terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Mereka yang mengaku berjuang
untuk kemerdekaan malah membuat kami semakin menderita,” ujar Wanimbo.
Pembakaran
dan perusakan fasilitas pendidikan serta fasilitas kesehatan oleh kelompok OPM
jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihentikan. Tindakan
ini tidak hanya merugikan korban secara langsung, tetapi juga menghambat upaya
untuk membangun Papua menjadi daerah yang lebih maju dan sejahtera.
Perlindungan terhadap fasilitas-fasilitas vital ini perlu diperkuat, dan dialog
damai harus menjadi solusi untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung
lama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar